Sastra Hujan Buat Pacarku

kata-kata-romantis-saat-hujan-turun

oleh : Aamir Darwis

Marlina,sayangku.Masihkah kamu ingat senja sore hari kala itu.Hujan gerimis rintik-rintik seakan langit menjatuhkan air matanya sebab pertemuan kita di kebun bunga mawar.Ribuan bunga mawar menjadi saksi pertemuan kita,berjejer rapi membentuk simbol love seakan menandai mesra dan romantisnya kala itu.Hujan yang gerimis kemudian menjadi lebih deras.HUJAN??? yah kita berdua sangat menyukai hujan,hujan adalah rahmat dari Tuhan.Hujan mendinginkan bara api amarah kita.Hujan mententramkan hati yang gelisah.Entahlah apakah kita seperti anak kecil yang bermain dengan riang gembira saat hujan,tanpa takut sakit atau kedinginan.Kita dipertemukan di kebun bunga sebab hujan.

Aku masih ingat,dengan susah payah kamu mengayuh sepedamu sebab hujan telah menjadi tamu perjalanan pulangmu,kamu kemudian berteduh di gubuk kecil yang di depannya ada ribuan bunga mawar yang membentuk simbol love.Jika dilihat dari gubuk,pemandangan sangatlah menakjubkan ada ribuan bunga mawar menjadi saksi akan keindahan semesta,pegunungan terlihat sangat kokoh dengan bebatuannya yang megah seakan dekat sekali jarak antara pegunungan dan kebun bunga.Sungai yang airnya jernih melintas di tengah-tengah kebun.Sangat bermanfaat buat para petani menyirami kebunbunganya.

Kamu yang pertama sampai di gubuk itu.Sementara aku tidak menghiraukan derasnya hujan,orang-orang berlarian menghindari hujan,aku bercinta dengan hujan.Kupejamkan mata ini sambil ku hirup semesta lalu ku bunga mata kembali.Ku pandangi langit yang semakin gelap akan awannya yang megah,setiap tetes air hujan kurasakan mengalir disekujur tubuh ini.Entah kenapa hati ini bahagia jika hujan datang.Seakan hujan melunturkan problema kehidupanku yang carut marut kala itu.Seakan hujan mengajarkan kepadaku bahwa jangan engkau menggenggam masalah biarlah masalah mengalir bak hujan yang tak pernah sama sekali menyalahkan awan.Hujan yang jatuh tak pernah menyalahkan awan.Begitulah kita,Marlina.Kita tak bisa menyalahkan masalah terus menerus,adakalanya kita harus seperti hujan,yang tak pernah membenci awan.Kita juga seperti itu.Kita jangan membenci masalah.Tetapi bersyukurlah bahwa masalah bisa jadi pertanda Tuhan akan mengistimewakan kita ataupun menaikan derajat kita.

Kemudian aku mendatangimu,kamu tampak tersipu malu,Marlina.Kamu dengan sigap merapikan rambutmu yang basah sebab air hujan,sejurus kemudian kamu menanyakan kepadaku.Mengapa tidak berlari saat hujan deras turun??? Aku menjawabnya dengan lembut,karena aku menyukai hujan wahai Marlina.Aku merasakan hujan sebagai pelipur laraku dan temanku saat berbagai masalah terus menghantuiku.Dengan hujan aku bisa menangis tanpa harus malu lagi,biarlah air mataku ini bercampur dengan air hujan supaya orang-orang tidak mengerti sebab masalahku ini.

Mendengar jawabanku,kamu tersenyum.Bibir tipismu seakan menandai bahwa mungkin kamu adalah Ratu dari hujan kala itu.Hujan bak sebuah festival atau pagelaran yang sumbu tujuannya adalah menghiburmu.Bunga mawar seakan mengatakan Janganlah menangis wahai Marlina,kami disini untuk menghiburmu.Burung pipit yang bersembunyi di bawah dahan pohon itu memandangimu,seakan iri dengan kecantikanmu.Seakan semesta memberi anugerah bahwa kebun bunga dan hujan sedang memanjakanmu.

Setelah sekian lama terdiam di dalam keberhajaan yang dibalut senyuman istimewa,kamu berkata kepadaku,”Aku juga menyukai hujan,aku tak bisa berkata apa-apa, tetapi entah kenapa saat hujan turun hati serasa damai,ada semacam rasa puas di dalam dada ini.Seakan mengatakan bahwa hujan telah menyelamatkan hati nurani ini”.Mendengar jawabanmu,kita sepakat bahwa sore senja kala itu,kita akan menikmati derasnya hujan.

Hujan bagai sastra.Hujan juga bagai melodi.Keindahannnya menetramkan hati nurani dan sebagai pelipur lara hati yang gundah gulana.Sore kala itu,kita sama-sama terdiam,berbicara dengan bahasa hujan yang tak pernah sama sekali membenci malaikat yang menurunkan hujan.Justru hujan sangat bersyukur sebab ia akan menyuburkan bunga-bunga indah.Tuhan menganugerahkan karuniaNya kepada kita,bahwa hujan suatu kenikmatan yang besar.Hujan tak bisa berpuisi tetapi hujan simbol inspirasi.

Jam 5 sore.Hujan perlahan-lahan mulai redup dan berhenti.Seakan mau mengucapkan salam perpisahan bahwa pertunjukan telah selesai.Bahwa tarian telah selesai.Kamu dan aku memandangi langit,air hujan semakin sedikit demi sedikit berangsur habis.Langit yang gelap berselimut awan hitam juga mulai cerah kembali.Subhanallah… spontan ku Puji Tuhan.Pelangi tiba-tiba muncul diatas pegunungan yang menjulang di atas kebun bunga itu.Seakan ingin sekali aku menjangkaunya,Marlina.Pelangi itu seakan dekat sekali,bukan? Kamu pasti ingat,aku yakin kamu masih ingat,bahwa pelangi itu menyapamu Marlina,ia menyapamu dengan keindahannya.Ia menunjukan sastranya kepadamu,Kenapa aku berani berbicara seperti itu.Karena aku telah lama menikmati hujan di kebun bunga itu dan hanya saat kamu berada ,oh Marlina.Pelangi yang indah itu muncul.Kamu tersenyum agak lebar,mendengar perkataanku.

Tetapi itu tidak berselang lama,pelangi itu hanya sebentar saja,sama seperti dirimu yang kini entah dimana,Senja sore kala itu tiba-tiba saja muncul,seakan menandakan perpisahan kita.Aku tidak mau itu terjadi,andai saja ku hentikan waktu,aku pasti akan menghentikannnya supaya aku bisa lebih lama lagi denganmu,Marlina.Kamu juga sepertinya tidak ingin hal yang menakjubkan ini berhenti,tetapi apalah daya… Dengan perlahan-lahan kamu berjalan mengambil sepedamu.Dan mengatakan kepadaku,”Aku pulang dulu ya,semoga kita bisa bertemu kembali besok” seakan ada nyala harapan dalam jiwa ini mendengar kata-katamu Marlina.Tetapi kini aku hanya terdiam,mencoba mengharapkanmu hadir lagi di gubuk kebun bunga,yah..setiap sore kala hujan turun aku disana Marlina.Aku menunggumu disana berharap wajahmu yang cantik itu akan hadir kembali.Tetapi semakin hujan deras,semakin hilang pengharapanku.Kamu tidak muncul lagi.Dan pelangi yang indah sehabis hujan juga tak muncul lagi.Kamu dan pelangi seakan meninggalkanku Marlina.Jika engkau membaca suratku ini,pulanglah Marlina.Aku menunggumu dengan hujan di hati ini.Mari kita bersama-sama menikmati hujan seperti kala itu.Aku menyukai hujan Marlina,tetapi aku lebih menyukai hujan jika ada dirimu.Aku menyukaimu Marlina.

Iklan