Jalan Cinta Mas Semprul

oleh : Aamir Darwis

Di pagi hari yang dingin,angin bertiup kencang dan ayam-ayam sudah berhenti berkokok,Mas Semprul bangun dari tidurnya.Dilihatnya jam menunjukkan setengah tujuh.Bergegas dia menuju kamar kecil untuk cuci muka dan berwudlu.Subuhnya kesiangan dan hal ini sering terjadi.Mungkin karena pekerjaan yang menuntutnya untuk pulang larut malam sehingga bangun pagi tidak mendapati waktu sholat subuh.

Mungkin karena sudah merasa di zona nyaman dia jadi kurang memperhatikan rohaninya.Uang sudah ada,bujangan jadi masih bebas bertingkah,belum banyak fikiran yang menuntutnya lebih dewasa, Seperti itulah Mas Semprul.

Dan yang paling ditakutkan adalah jika zona nyaman yang menurut Mas Semprul itu nyaman malah itu zona menuju kehancuran.Tuhan menyamankan Mas Semprul dalam rangka meng-adzabnya.Dibuatnya terlena dengan kehidupan yang dijalaninya.Dan yang paling berbahaya,Mas Semprul tidak tanggap dan cekatan.Bahwa nyaman atau tidak nyaman itu wujud skenario Tuhan menguji hambaNya.Apakah ia ingat atau tidak? Apakah ia sadari dan mau berubah apa tidak?

Tetapi begitulah Mas Semprul,jika dalam kondisi nyaman ia lupa tetapi jika dalam kondisi tidak nyaman.Ia njerit-jerit sambil nangis memohon belas kasih dan pertolongan Tuhan.Tuhan ditempatkan jika dia terdesak tetapi jika sudah nyaman,Tuhan dilupakan.Ini berbahaya baginya,Bisa jadi Tuhan yang maha asyik itu sedang mengotak atik nasibnya,dibuat tawa ataupun tangis sambil sesekali dilihat lulus atau tidaknya menjadi manusia.

Mas Semprul ternyata seorang artis terkenal,dia juga seorang penulis yang tulisannya sering memenuhi kolom-kolom di koran kota.Entah apa yang difikirkannya tetapi secara menjadi orang terkenal itu berbahaya bagi batinnya.Barangkali ada rasa ujub,pengin dilihat sebagai orang hebat,pengin dikenang orang,pengin dianggap pahlawan.Dan itu pasti ada fikiran gelap yang berseliweran menuju kesana.Tetapi untungnya Mas Semprul tahu sehingga saat melakukan apapun ia libatkan Tuhan.Bahwa Tuhan yang menakdirkan dan menciptakan.Pintar,Hebat,Pahlawan,Dikenang,Kaya,Berwibawa atau apapun.Itu semua adalah wujud kasih sayang Tuhan bagi hambaNya.Jadi wajarlah cuma Tuhan yang wajib dipuji dan dipuja.

Dalam kondisi seperti itu,ia merasakan sakit batin yang sulit ia sebutkan namanya.Fikirannya kosong dan pengin berubah.Dan disaat itu, tiba-tiba ia ingat dengan Mbah Marles.

Mbah Marles berpesan bahwa ingatlah Allah di dalam melihat apapun.Jika melihat batu ingatlah batu itu ciptaan Allah,jika melihat kendaraan ingatlah itu dari Allah.Jangan menyangka,apa yang dibuat manusia itu ciptaan manusia itu ciptaan Allah karena Allah yang menuntutnya dan mengilhaminya.Intinya apapun yang kita pikirkan, kaitkan dengan Allah.Begitu Ujar Mbah Marles.

Mas Semprul manggut-manggut kepalanya, tampaknya dia mulai faham bahwa hakekat kehidupan itu ya untuk Allah.Tetapi Mas Semprul juga bingung, kenapa saat berbuat dosa ataupun khilaf seperti biasa saja,Bahkan malah terkadang bangga.Ini lho selingkuhan saya banyak,Saya sudah mabuk 5 botol anggur lho atau apapun saja.Merasa bangga pada perbuatan dosa dan tidak ada tanggapan batinnya bahwa itu salah.Apakah hati saya mati? Tanya Mas Semprul kepada Mbah Marles.

“Jika mati mungkin ia, tetapi bersyukurlah Nak Semprul,Allah masih memberikan kesempatan untuk berbenah, tingkatkan amal salehmu tetapi perlu diingat,niatkan hanya untukNya.Dan kalau bisa,jangan sampai orang tahu kamu sedang beramal.Bisa dengan zikir batin,sedekah tanpa nama atau apa saja.Hindari ria dan niatkan hanya untuk mencari keridhoan Allah.”

“Nak Semprul,coba tanya pada diri sendiri,kita ini siapa? Apa tujuan kita berada di dunia? Lihat dan sadari kemahabesaran Allah,alam semesta dan seisinya.Kita ini bak sebutir pasir di lautan pasir.Allah sangat berperan penting dikehidupan saya,Saya merasa tidak ada apa-apanya..Bahkan jiwa saya merasa lenyap,dan yang ada hanya Allah.Allahlah sumber segala sumber,Sampai aku pun bingung dan kehilangan jati diriku,Saya merasa yang ada hanya Allah dan yang lain yakni makhluknya adalah cipratan kasih sayangNya.”

“Sampai akhirnya saya sadar dan kembali ke jati diri saya,bahwa khalifatullah itu jalan saya.Akan selalu ku tebar kasih sayang ke semua makhlukNya.Saya tidak tega menyakiti makhlukNya,karena Saya mencintai Allah saya otomatis harus mencintai makhluk ciptaanNya”

Dari paparan itu,Mas Semprul buyar fikirannya.Jiwanya mengambang antara ada dan tiada.Tetapi kemudian dia kembali ke bumi, menjadi seorang pecinta ilahi.Menjadi pejalan sunyi.

Iklan