Surat Balasan Dari Nayla

oleh : Aamir Darwis

Sukab, setelah membaca suratmu,aku tak tahu harus senang atau marah.Katanya aku meninggalkanmu lebih dari tujuh purnama? Bukankah kamu yang meninggalkanku duluan,Sukab? Ingatkah saat aku menunggumu, menunggu cintamu.Menunggu kau mengungkapkan rasa cinta yang paling aku inginkan.Tetapi kamu berlalu seperti kembali menapaki masa kekosonganmu.Aku mencoba tersenyum padamu sambil berharap akan sepoi angin yang menyejukkan hatiku.Aku menunggu angin cintamu.Tetapi kamu berlalu seperti tidak terjadi apa-apa.

Jujur aku juga merindukan masa-masa itu.Saat kita masih bersama dengan sederhana.Saat itu komunikasi kita hanya surat,bukan? Gadget belumlah terasa genap seribu hanya segelintir yang punya.Dan itu yang membuat aku makin rindu dengan masa itu.Musik dan syair bisa dinikmati kapan saja hari ini hanya dengan klik gadget tetapi menunggu request lagu di radio lebih membahagiakan kita apalagi jika salam-salam kita dibaca.Ah! Sudahlah Sukab,aku marah padamu,aku membencimu bahkan aku juga mencoba membuang bingkisan kenangan yang paling penting dikehidupanku.Bingkisan kenangan darimu.Seperti bunga yang terbuat dari sedotan air minum saat kita membuatnya dulu,foto hitam putih lulusan kita,gelang tangan pemberian darimu,dan sebuah buku diary yang sampai sekarang tak pernah aku isi.Bagaimana aku mengisinya,Sukab??? Kau menggantung cintaku,kau membuatku menunggu.Saat aku menatapmu dan mencoba tersenyum kau malah membuang muka.Entah itu malu,grogi atau apa. Tetapi jujur saat itu aku masih mencintaimu.

Aku menunggumu.Sukab,coba tebak berapa lama aku menunggumu??? Sembilan tahun aku menunggu,menutup rapat-rapat cintaku pada yang lain demi cintaku padamu.Kita pernah berjanji tidak akan menggunakan handphone untuk saling bicara,kita berjanji bahwa komunikasi kita hanya lewat surat.Aku tak masalah akan hal itu.Aku sempat membayangkan betapa rindunya dan berharap suratku dibalas.Ada rasa bahagia menunggu surat darimu. Tetapi itu dulu.Pertanyaanku, Mengapa kamu tak mengungkapkan perasaanmu saat itu.

Ketika aku akan pergi ke Malaysia,aku berharap kau akan menghentikan langkahku.Kau malah sibuk mengurusi pekerjaanmu bahkan hijrah ke Purwakarta.Sayang akupun tak mengetahuinya.Kaupun sudah tak mengabariku lagi.

Aku masih menyimpan puisimu,Sukab.Puisi kemunafikanmu itu..

“Ketika kamu tersenyum,bunga mawar kembali mekar dengan isyarat sempurna dan Ketika kamu tertidur,Bunga mawarpun mendo’akanmu.Semoga esok pagi kamu seperti bidadari”

Puisi paling bajingan yang mengoyak hatiku,Sukab.Puisi yang aku sangka kita akan hidup bersama selamanya.Tetapi kini menghilang bagai fatamorgana.

Mengapa kamu muncul kembali??? Disaat aku mencoba membuang kenangan kita.Disaat ada pria lain yang kini mencoba membahagiakan diriku.Pria yang bisa menggantikan posisimu.Aku bingung mau tertawa lepas,menangis tersedu-sedu atau marah memerah.Jangan kaget,Sukab.Bulan depan pria itu mau melamar dan menikahiku.Aku bingung, mengapa kamu tiba-tiba muncul? Mengapa kamu tiba-tiba mengungkapkan perasaanmu? 

(Sambil menghentikan penanya,Nayla menangis tersedu-sedu.Fikirannya bingung antara memilih Sukab atau pria yang kini akan menikahinya)

(Sampai akhirnya ia membuat keputusan,jika Sukab datang saat prosesi pernikahan maka ia siap kabur dengannya tetapi jika tidak maka ia memilih pria lain)

Cukup lama aku memikirkan ini. Baiklah,Sukab.Datanglah ke acara pernikahanku dan bawa aku pergi bersamamu.Jika kamu telat maka aku akan menikah dengan pria yang kini menjadi calon suamiku.Bawa aku pergi,Bawa aku lari.Kejarlah cintaku,jika kamu masih mencintaiku.Jika kamu masih berharap aku akan kembali membuka hati untukmu.

Selangor, Malaysia

Nayla Putri 

Surat Untuk Nayla ( Bagian 1)

Perjalanan Cinta Sukab Ke Negeri Jiran ( Bagian 3 )

Iklan

10 thoughts on “Surat Balasan Dari Nayla

  1. Ah cerita yang isinya cuma surat menyurat tapi bisa menjelaskan banyak hal, keren yaa 😁

    Aku mau tau Sukab datang gak ya nanti 😂😂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s