Diary Marhen

oleh : Aamir Darwis

Di dalam lemari tua dengan ukiran kayu Jati khas Jepara, Kapitayan menemukan buku dengan ukuran kecil dari tumpukan buku-buku kitab milik kakeknya.Buku ini berbeda, barangkali mungkin seperti diary milik kakeknya.Iapun membuka dan siap membacanya.

Kakek Kapitayan bernama San Musid.Pekerjaan sehari-hari adalah petani.Terkenal dengan keuletan dan kekuatan karena diumur yang sudah senja, beliau masih kuat menjunjung dan menggendong sekarung padi yang diambil dari sawahnya.Mungkin orang-orang jaman dulu seperti itu,ulet dan rajin.Badannya pengin bekerja terus.Kapitayan kadang-kadang masih terkenang saat-saat masih bekerja di sawah bersama kakeknya itu.Sungguh malu jika diingat, kakeknya jauh lebih kuat daripada Kapitayan.Apalagi saat waktu istirahat sehabis mencangkul sawah,sambil memesan es dawet dan rokokan.Beuuhh.. nikmat rasanya.Tetapi itu hanya tinggal cerita, Kakeknya sudah meninggal.Namun semangat menjalani hidup telah menginspirasi Kapitayan untuk berbuat baik di hidup yang singkat ini.

Lembaran pertama buku dibuka, tercantum nama Marhen.Ternyata bukan diary kakeknya,sangat jarang dan mustahil memang kakeknya memiliki buku diary semacam itu.

Dibacakan lembar demi lembar buku itu.Barangkali ada yang bisa diambil manfaatnya.Pikir Kapitayan.

“Namaku Marhen,perkenankan diriku ceritakan pengalaman pribadi.Aku pernah terkena penyakit usus buntu.Penyebabnya sederhana,aku kebanyakan makan mie instan.Dalam sehari,aku bisa menghabiskan lebih dari lima bungkus.Maniak mie! Gara-gara itu aku jadi sakit bahkan terancam tidak masuk sekolah baru.Tetapi Alhamdulillah sekarang sudah sembuh,aku beri nasihat bagi penggemar mie instan,kurangi makan mie instan.Dan jika diseduh,air panas pertama harus dibuang.Karena bisa jadi bahan pewarna masih menempel.Jika memakai kuah, pakai air kuah kedua.Air kuah pertama buang saja.”

“Aku pernah mau diculik jin saat kecil dulu.Jin itu menyamar jadi tetanggaku.Dulu cerita mistis masih asyik dan ngeri buat bahan obrolan.Alhamdulillah, ibu menemukanku.Beliau panik melihatku sedang bermain air di dekat sungai sambil melihat tetanggaku.Padahal ibu tidak melihat.Mungkin jin brengsek itu hanya bisa dilihat oleh mataku saja.Akupun dibawa pulang.Jika mau cerita,kata ibuku.Aku sering sakit-sakitan saat bayi.Sudah sering beliau melihat aku kejang-kejang (STIP) dan bahkan aku pernah dibuang ke sebuah tempat pembuangan sampah.Menurut tradisi jaman dulu,hal itu untuk membuang nasib sial.Tetapi tidak lama.aku dipungut dan berganti nama.Dulu namaku Kapitan tetapi karena hal itu berganti nama menjadi Kapitayan.Aku juga mendengar cerita temanku, katanya kakek mbahnya dulu itu kalau mencangkul cuma bermodal liwet nasi.Yang mengerjakan mungkin jin atau apa, tetapi pekerjaan mencangkul itu dikerjakan malam hari.Namanya “bala Sewu”. Orang jaman dulu bisa jadi lebih hebat dari orang sekarang,orang jaman dulu bisa terbang bisa kuat tanpa harus tahu itu mengandung vitamin atau gizi.Jika ditelisik, bagaimana cara membuat candi Borobudur atau candi Prambanan atau yang jauh yakni Piramida di Mesir.kita yang mengaku modern tak habis pikir,alat dan cara apa yang mereka gunakan untuk membuat hal itu,Jika saja hal-hal jaman dulu bisa didokumentasikan pasti kita bisa mengambil pelajaran dari orang jaman dulu.Bagaimana cara mereka hidup, bekerja, bersosial dan lain sebagainya.Dari hal ini kita mengerti bahwa menulis sejarah sangatlah penting”

“Tempat tinggalku bisa jadi yang paling unik, tetapi banyak pelajaran penting yang bisa diambil.Orang-orang desaku lebih suka membangun dapur dulu daripada bagian depan rumah, orang-orang desaku sangat ramah dan tinggi sosial masyarakatnya,terbukti dengan banyaknya bagi-bagi sedekah.Slamatan,wetonan,syukuran.Pokoknya desaku itu kompak untuk hal semacam ini.Kami juga mengenal dan akrab dengan tetangga yang bahkan 40 rumah dari rumah kami yang mengindikasikan bahwa kami memang guyup rukun dan suka bersosial .Hal ini yang tidak ada di kehidupan kota yang terkesan loe loe gue gue, individual dan apatis.Sangat miris memang jika hidup seperti itu,tidak kenal tetangga jauh dan tidak ada interaksi sosial masyarakatnya”

“Aku mengalami sendiri bagaimana hidup dengan lampu damar kemudian munculah listrik yang membuat desaku lebih terang, permainan seperti gopak sodor,umbul,karetan,lithongan,macanan,petak umpet,gogoh iwak,nganco,dan lain sebagainya itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.Terlepas dari perubahan permainan yang menuntut menjadi pribadi individual, generasiku bisa jadi yang terakhir.Sekarang bermain hanya lewat gadget.But you know! Itu memuakan! Pahlawan superhero eraku mungkin seperti Panji manusia millenium,Saras 008,Wiro sableng,Si buta dari gua hantu,Jaka sembung,Si Pitung,Gundala,dan Gatotkaca.Kini diganti Batman,Superman, Spiderman dan Deadpool.Hahaha.. miris memang”

“Ibu adalah pahlawan bagiku.Penyemangat dan penerang perjuanganku.Dia adalah api penyemangat yang terus membakar untuk terus berjuang dengan kerja cerdas dan juga keras.Aku beri nasihat untukmu, sayangilah dan cintailah ibumu dengan sepenuh hati.Berbuat baiklah padanya,dan buatlah dia senang dan bahagia.Jangan tunggu tua dan nanti, selagi orangtuamu masih ada berbuat baiklah.Jangan sampai menyesal dikemudian hari.Satu lagi! Saat tua dan pikun nanti rawatlah ia dengan sabar dan ikhlas sebagaimana ia merawat kita saat masih bayi.Jangan membentaknya.”
Kapitayan menghentikan bacaannya,ia termenung sejenak.Menutup buku diary itu,dan bergegas menuju kamar tidur.Tampaknya matanya sudah tak bisa kompromi lagi.The ngantuk is menyerang! Heuheuheu…

Iklan

One thought on “Diary Marhen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s