Manusia Arus Balik

oleh : Aamir Darwis

Sebagai manusia kita sering sekali menjadi seperti arus balik artinya kita melakukan sesuatu bukan karena Allah tetapi karena orang lain melakukan sesuatu pada kita.hubungan timbal balik.Jika orang berbuat baik pada kita,kita berbuat baik kepadanya.Begitu juga jika orang berbuat buruk pada kita,kitapun akan berbuat buruk kepadanya.Ini memang wajar sebagai manusia.Tetapi apakah tindakan semacam ini benar atau jangan-jangan salah?

Misalnya ada orang yang memberi salam kepada kita,kitapun akan mengucapkan salam jika bertemu ia kapan-kapan.Begitu juga jika ia tidak mengucapkan salam atau tidak menyapa kita di jalan,kitapun lantas tidak akan menyapa dan menyalami ia di jalan.Terdengar wajar dan biasa, tetapi apakah ini benar? Apa kebaikan hanya terletak pada hubungan timbal balik saja,bukankah kita diajarkan untuk berbuat baik kepada orang siapapun saja tanpa harus kita menuntut orang lain berbuat baik pada kita.Bukankah tujuan perbuatan baik kita itu adalah karena Allah? Atau jangan-jangan kita hanya terjebak pada hubungan timbal balik saja tanpa mau merasakan dan mendalami hakekat perbuatan kita.kita sibuk menuntut orang lain berbuat baik pada kita jika kita berbuat baik kepadanya.

Indifidualis yang berlebihan dalam konteks amal adalah tidak baik jika tujuan kita adalah Ridho Allah.Sebuah kisah jaman dahulu,ada suami istri yang terkenal akan ibadahnya kemudian pasangan ini melahirkan anak.Karena sangat mementingkan amalnya sendiri,mereka melupakan tugasnya mendidik anak ,mereka asyik beribadah sementara anaknya sibuk melakukan dosa karena tidak tahu menahu ibadah apa yang akan dilakukan.orang tuanya sangat indifidualis dalam hal amal sehingga anaknya sendiripun tidak sempat ia ajarkan ilmu agama.Walhasil saat di akherat,orangtua ini yang rajin beribadah diseret ke neraka oleh Allah sebab anak mereka yang di neraka karena bergelimang dosa menuntut bahwa orangtuanya tidak pernah memikirkan dan mengajarinya beribadah dan mereka sibuk beribadah sendiri-sendiri.Akhirnya oleh Allah orang tua tersebut dimasukan ke dalam neraka bersama anaknya itu.

Kisah ini mengajarkan banyak hal kepada kita bahwa amal kitapun belum tentu menjamin bahwa kita akan masuk Surga.Apa hebatnya amal kita,jika kita masih senang beramal tetapi tidak mau berdakwah atau mengajarkan kepada orang lain.Kita biarkan maksiat dimana-mana.Kita tidak peduli dengan lingkungan yang penuh dengan maksiat yang penting diri kita masih beramal.Hal semacam ini perlu kita waspadai karena sebagai manusia kita juga punya tanggung jawab kepada orang lain.

Seperti yang disabdakan oleh Rosululloh bahwa sebagai umat islam jika melihat kemungkaran kita mempunyai 3 pilihan,jika mampu dengan tangan dan perbuatan maka lakukan dengan tangan dan perbuatan,jika hanya mampu dengan perkataan maka lakukan dengan perkataan dan jika hanya mampu dengan perasaan hati maka lakukan dengan hati dengan mendo’akan.Ini bisa jadi bahwa manusia muslim memiliki tanggung jawab kepada orang lain.Siapapun itu.Kita harus melakukan 3 dari pilihan itu jika menemukan kemungkaran.Sedang lari atau acuh pada kemungkaran yang terjadi adalah salah walau kita sudah beramal sekalipun.

Kitapun masih dibuat bingung misalnya dengan pilihan membangunkan orang tidur saat tiba waktu sholat atau membiarkan ia tidur karena kecapean toh ia dapat mengkhodo sholat.tetapi dengan pilihan yang terbaik adalah membangunkannya untuk kebaikannya di akherat.Meskipun pilihan tidak membangunkanpun tidak salah.Karena selama orang masih tidur ia lepas dari kewajiban sholat sampai ia bangun dari tidurnya.Setelah bangun ia wajib sholat (mengkhodo) dan terkena kewajiban sholat lagi.Tetapi lagi-lagi peran hati yang akan menilai apakah ia membangunkan karena kasihan masih kecapean atau sengaja tidak peduli yang penting diri sendiri sholat.Bukankah ini juga mirip dengan cerita orangtua yang membiarkan anaknya bergelimang dengan dosa dan sibuk mengurusi dirinya sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s