Perdebatan Cover Dan Isinya

oleh : Aamir Darwis

Budaya suatu bangsa bisa saja berubah seiring berjalannya waktu.Dan dalam hal ini, tidak menjadi soal jika budaya itu mengarah ke peradaban yang berakhlak.Tidak harus ia dituntut menjadi modern jika budaya tradisional masih bisa menampung peradaban akhlak yang lebih baik.Karena toh masih banyak budaya atau adat atau cara-cara pola komunikasi sesama masyarakat tradisional yang sebenarnya harus kita jaga terus menerus.

Kegiatan tahlilan,kenduri,dan yang semacamnya hal ini juga patut dilestarikan selama niat dan tujuannya masih benar yakni tidak melanggar hukum sar’i.Walau kegiatan semacam itu masih saja diperdebatkan hukum halal haramnya oleh orang yang mengaku kaum beragama.Sangat miris memang yang diserang adalah pola-pola komunikasi masyarakat sedangkan pola-pola kedzoliman yang besar seperti kolusi,korupsi dan nepotisme hanya dimaki dengan stempel kejahatan sedangkan pola masyarakat seperti tahlilan dibilang melanggar sar’i.Lagi-lagi yang diserang dan disalahkan adalah kegiatan masyarakat yang akarnya jauh ada sebelum adanya islam di negeri tercinta kita ini.

Jika kita harus jujur dalam hati kita bahwa di dalam tahlilan sangat sar’i misalnya silaturahim,guyup rukun sesama masyarakat,pengajian,mengaji alqur’an,zikir-zikir dan berbagai macam lantunan do’a.Semua 100% lulus kategori syariat dan yang menjadi permasalahan oleh kaum sebagian kami adalah cover dari semua unsur-unsur syariat tersebut yang pasti tidak ada di dalam kegiatan Rosululloh.Jika dilihat secara cover secara judul misalnya yasinan dan tahlilan jelas tidak ada di dalam kegiatan Rosululloh.tetapi kita harus jujur bahwa semua yang ada di dalam yasinan dan tahlilan adalah murni lulus syariat.Lagi-lagi yang menjadi perdebatan kaum akar rumput (kaum yang masih mencari kesalahan orang lain dan menganggap tafsirnya paling benar) adalah tentang cover atau judul.Jika para penentang berprinsip bahwa Rosululloh tidak melakukan tahlilan ia menilai dari sudut pandang cover atau judul kegiatan.Jika yang setuju berprinsip bahwa selama semua unsur di dalam cover  atau judul masih murni lulus kategori syariat maka ia lulus amalnya yakni diterima,pihak yang setuju melihat isi dari cover tersebut.

Setelah kita tahu bahwa yang menjadi perdebatan adalah cover dan isi cover maka penulis berharap bahwa semuanya bisa menyadari dan saling menghargai.Dan jika kita belajar atau membaca buku lebih penting mana cover atau isi di dalam cover???

Iklan

8 thoughts on “Perdebatan Cover Dan Isinya

  1. jadi intinya, kita boleh berimprovisasi dalam beragama asal lolos verifikasi syariat? menarik. sungguh artikel yang sangat diinginkan jiwa. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  2. jadi saya ga perlu heran yah? ketika nanti ada banyak muslim yang bersikukuh mempertahankan tradisi leluhur dibanding yang tunduk patuh pada kesempurnaan risalah yang diturunkan gusti Alloh kepada rosululloh shalallahu alaihi wassalam? asal lolos syariat. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  3. Hahahaha.. boleh”.. emang harusnya spt itu ttp yg hny fokus ke cover dan gak perduli isinya tetap ja dihujat.. karena ibadah hrs bagus covernya.. ya itulah penafsiran manusia

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s