Ibu Ibarat Sekolah Tanpa Kelas

oleh : Aamir Darwis

“ibu itu ibarat sekolah,jika engkau persiapan dia,berarti engkau telah mempersiapkan suatu generasi yang kuat lagi kokoh”

Tulisan di atas bukanlah untaian motivasi belaka karena nyatanya itu adalah kutipan syair yang ditulis sastrawan Arab terkenal bernama Hafiz Ibrahim yang ingin menunjukan kepada kita akan peranan yang sangat vital bagi seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya.

Tulisan yang hadir kali ini tidak akan membahas kewajiban mendidik anak yang ditekankan pada ibu semata.Sangatlah tidak fair jika kewajiban mendidik anak hanya ditekankan pada ibu saja,karena peran ayah juga sangat penting.Mungkin tulisan ini hanya akan mengekspos model pendidikan kemanusiaan yang dipraktekan oleh ibu sebagai sumber inspirasi pertama bagi seorang anak.

Pilar Pendidikan

Ibu adalah guru sekaligus teman bagi seseorang anak karena dialah manusia yang mengandung dan dari dirinya juga sang anak akan belajar untuk pertama kalinya.Bahkan sebelum ia lahir,sebenarnya anak sudah mendapatkan pendidikan dari ibu yang disebut dengan pendidikan pranatal.Dampak dari pendidikan ini akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya.Maka bagi ibu yang sedang mengandung agar menjaga kandungannya dengan baik.

Usaha menjaga kandungan tidak hanya sebatas fisik yakni merawat kesehatan jasmani dengan pelayanan kesehatan dan gizi yang memadai tetapi kondisi psikisnyapun perlu mendapatkan perawatan atau penanganan.Maka dari itu ibu juga dituntut menjaga kondisi kejiwaannya dituntut supaya tidak stress dan tetap rileks.

Pendidikan ibu bukanlah pendidikan yang harus memakai jenjang kelas untuk lulus tetapi pendidikannya lebih mengarah ke sisi kemanusiaan yang nyatanya untuk akhir-akhir ini manusia seolah krisis tentang kemanusiaan.Pembunuhan,pemerkosaan dan kejahatan lainnya adalah wujud nyata bahwa manusia gagal mengenali sisi kemanusiaannya.Yang lebih ditekankan adalah nafsu dan materalistis sehingga anakpun kurang peka sisi kemanusiaannya.

Bila kita ingin menunjukan tujuan utama pembelajaran yakni sisi kemanusiaannya supaya lebih dominan dibanding kecerdasan otak yang nyatanya bisa jadi bumerang.Cerdas otak tetapi tidak dilapisi sisi kemanusiaan maka akan menjadi racun bahkan merusak manusia itu sendiri.Masih ingat dengan kecerdasan Einstein yang akhirnya digunakan untuk membuat bom nuklir.Kecerdasannya digunakan untuk membunuh manusia.Meskipun akhirnya Einstein mengakui bahwa menunjukan rumus itu salah besar.

Dan kita harus mengakui bahwa sistem pendidikan kita yakni sekolahan merupakan system cerdas otak dimana segala bidang yang dikejar adalah keunggulan otak.Sedangkan sisi kemanusiaan sangat minim bahkan bisa dibilang ditiadakan.

Peserta didik hanya disibukan dengan ilmu-ilmu akademis yang sifatnya mengikat para peserta didik untuk akhirnya mempelajari semua hal yang ada di sana.Tidak peduli ia bodoh atau pintar tetap saja semua materi pembelajaran harus ia kuasai.Padahal jika kita harus jujur,tidak semua pelajaran yang kita dapat di sekolahan kita praktekan di kehidupan kita.Seorang yang ahli matematika misalnya harus dituntut untuk mempelajari ilmu lainnya walau ia tidak suka.Problem pengajaran kita adalah ketidakmampuan pengajar untuk mengoptimalkan bakat siswanya.Kita sering mengenal bahwa anak SD Indonesia pintar-pintar tetapi saat jadi sarjana nol besar,anak SD bule bodoh-bodoh tetapi saat jadi sarjana ia hebat.Jelas sekali bahwa problemnya di konsep pendidikan dan pengajaran.

Kembali ke pembahasan bahwa ibu adalah pendidik pertama bagi anak,kita harus mendidik anak agar ia lebih menonjol sisi kemanusiaannya ditunjang dengan ilmu akademis tentunya dan supaya anak lebih menghargai manusia lainnya dan alam semesta tentunya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s