Kisah Sarpin Dan Saimun Part 11 : Karakter Pak Kyai

oleh : Aamir Darwis

Sarpin & Saimun kembali ke gubugnya Kyai Sengkelat untuk ngaji lagi.Siapa tau dapat satu dua nasehat yang kelak bisa didapatkan,pikir mereka.

Waktu maghribpun berlalu,kini Sang Kyai akan mengajar ngaji lagi,entah apa yang akan diajarkannya kepada dua pemuda itu.Semoga saja bisa bermanfaat atau setidak-tidaknya menambah pengetahuan untuk mereka.

Sang Kyaipun bertutur…

“Kalian berdua harus tahu,bahwa yang merusak negara kita ini, bukanlah orang bodoh melainkan orang-orang yang pintar.Yang merusak hukum ternyata pakar-akar hukum,yang merusak politik ternyata para politikus dan yang merusak negara adalah yang mengurus negara.Para koruptor adalah orang-orang pintar lulusan universitas tapi sayangnya Iman dan taqwanya kepada Tuhan hilang atau sengaja dihilangkan.Ini yang perlu dipertanyakan kepada Universitas,karena kita tahu koruptor kebanyakan keluaran atau lulusan dari sana.Universitas sibuk membenahi otak tetapi gagal membenahi akhlak.Universitas berhasil menciptakan orang pintar tetapi minim menciptakan orang yang berakhlak.maka dari itu,saya sangat berharap kepada pesantren.Semoga kelak pesantren menciptakan pemimpin bagi bangsa ini.”

“Kita harus bisa memutus mata rantai koruptor! Jika sekarang koruptor masih berkeliaran,praktek pungutan liar skala besar yang sudah ada runtutan per orangnya mungkin tak akan mudah untuk kita hentikan.Menyuruh Presiden dan DPR membikin pasal koruptor harus dibunuh atau koruptor dihukum seumur hidup itu jelas tidak mungkin,karena disebagian mereka ternyata masih ada yang korup.Salah satu cara memutus mata rantai koruptor dengan cara membikin generasi yang takut akan Tuhan.Mumpuni ilmu agamanya sehingga ilmu agamanya akan menjauhkannya untuk korupsi.Kita harus bisa membikin generasi pemimpin yang berakhlak.Bukan hanya cerdas tapi harus berakhlak.Meskipun cara ini memakan waktu yang lama tapi harus kita lakukan,kita harus membikin pemimpin berakhlak dan saya sangat berharap kepada santri-santri.Semoga kelak ada yang jadi pemimpin negeri ini”

Entah terpengaruh oleh siapa,Kyai Sengkelat bukannya mengajarkan ilmu-ilmu agama malah sibuk ngurusin negara,Seperti Bung Tomo,ia berapi-api saat menjelaskan hal-hal tersebut.Mungkin ia terpengaruh semangat juang Bung Tomo atau mungkin Bung Karno.

Tetapi tiba-tiba ia menjelaskan karakter kyai menurut versinya,ada kyai tutur kyai sembur kyai catur kyai nganggur dan kyai ngawur.

“Dulu pernah ada yang menanyakan ikhwal siapa itu kyai karena ada yang ragu-ragu dengan kyai.Kyai kok nyabulin santrinya.Jika kalian tahu,sosok seperti itu bukanlah kyai.Kyai adalah sosok yang menjadi panutan,bukan hanya harus mumpuni ilmu agamanya ia juga harus menjadi sosok yang berakhlak mulia dan peduli pada masyarakatnya,maka kalian berdua jangan terkecoh dengan penampilan.Sekarang banyak OPB (orang pintar baru) bermodalkan jenggot dan jubah sudah dibilang kyai.Kyai itu tidak memfokuskan pada penampilan tapi pada perilaku akhlaknya,maka jangan heran jika kyai juga ada yang menjadi petani penampilannya ya seperti petani ada juga yang berdagang dan lain sebagainya.Dan saat waktunya mengajar santri,ia mengajar.Ia menjaga dirinya dari dosa dan siap terjun ke masyarakat jika sekiranya diperlukan”

“Karakter kyai yang seperti itu,namanya adalah Kyai tutur.Kyai yang menjadi panutan menjadi ladang ilmu bagi santri-santrinya.Kyai Catur itu kyai yang ikut percaturan politik negeri ini.Kyai nganggur itu kyai yang tidak dianggap karena perilakunya tidak mencerminkan sosok kyai,Kyai Ngawur itu kyai yang akhlaknya buruk dan senangnya memecah belah umat.Bukannya umat disatukan,tetapi umat dibikin resah olehnya.Maka dari itu jangan sampai kita salah memilih kyai.”

“Oleh karena itu,kalian harus hati-hati dalam belajar ilmu agama.kalian harus punya guru dan saya berharap kelak kalian harus berguru ke kyai-kyai pesantren.Jangan hanya belajar lewat internet.Internet cukup dijadikan referensi saja.Sangat bahaya sekali jika sesudah belajar membaca AlQur’an dan belajar sholat kalian berhenti belajar ilmu agama.bahayanya jika kalian mengambil ilmu di internet,ngaji terjemahan lewat internet.Memakai AlQur’an terjemah atau hadits terjemah.sudah pasti bahayanya yaitu jika kalian salah menafsirkan atau terjemahan itu sengaja disalahkan.Seperti yang ramai kita lihat di masyarakat Kerajaan BliimbingWesi,ribut-ribut masalah terjemahan dari  ‘pemimpin’ yang diganti ‘teman setia’.Ini rancunya belajar terjemahan.Jika kalian berguru ke kyai pesantren atau punya guru itu ada ilmu untuk mempelajari Alqur’an dan Alhadits.Tidak diterjemahkan begitu saja.Jika kita tidak punya ilmu nahwu atau ilmu yang mempelajari bahasa Arab kita bisa-bisa keliru dan ketipu jika mengandalkan tafsir dan terjemahan saja.”

“Saya sangat tidak setuju dengan AlQur’an terjemah,bukan karena terjemahan itu jelek.Ini supaya orang-orang bisa beralih mencari ilmu agama dengan jelas yakni lewat guru atau kyai.Jangan mengandalkan atau berpatok pada terjemah!”

“Sungguh miris jika orang yang belajar terjemahan (cuman ngaji di internet) menyalahkan orang yang belajar ilmu agama bertahun-tahun di pesantren.Ilmu yang ditempa ditirakati bertahun-tahun harus kalah dengan fatwa-fatwa internet.Ini lucu dan sangat rancu”

Kyai Sengkelat mengakhiri ceramahnya dengan berharap masyarakat itu belajar ilmu di pesantren.Sedang belajar di internet jadikan referensi saja.Sungguh sangat beruntung orang-orang yang belajar ilmu agama dengan guru yang sanadnya nyambung ke Rosululloh dan itu bisa dilalui salah satunya dengan belajar di pondok pesantren.Ayo Mondok! Jadilah santri yang kelak akan memimpin bangsa ini!

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s