Kisah Sarpin Dan Saimun Part 13 : Maiyahan Di Bawah Air Sungai

oleh : Aamir Darwis

Setelah menjelaskan arti kata dari Ibrahim dan Kholil,Kyai Sengkelat memberitahukan kepada dua muridnya bahwa besok pagi-pagi ia akan Maiyahan dibawah air sungai.Sontak pernyataan ini membuat heboh Sarpin & Saimun yang mengira gurunya bisa hidup di dalam air.Mereka belum tahu apa itu Maiyahan? Siapa yang memulainya? Kok dibawah sungai segala?

Semalaman pikiran mereka terbayang dan penasaran tentang apa itu maiyah…

Pagi haripun datang,Sebelum berangkat ke sungai Sang Kyai Sengkelat dengan penuh kesabaran memberitahukan nasihat kepada dua pemuda itu.

“Maiyah artinya melakukan apa saja bersama Allah,setiap hembusan nafas harus ada Allah sehingga pola perilaku dapat terjaga dari hal-hal yang bukan selain Allah.Maiyah awalnya berasal dari kalimat “Inna ma’iya rabbi” yang disebut oleh Nabi Musa As.Banyak pendapat tentang apa itu maiyah tetapi yang jelas gaung dan pusat utamanya kepada pelopornya yakni Cak Nun.Salah satu guru saya juga.Walau umur saya lebih tua,Cak Nun (Emha Ainun Nadjib,Jombang 27 Mei 1953) membuka pikiran saya untuk menghormati manusia apapun jenis manusianya.Kegiatan maiyahan yang sudah tersebar di Negeri Indonesia seperti Kenduri Cinta (Jakarta),Mocopat Syafaat (Yogyakarta),Padhangmbulan (Jombang),Gambang Syafaat (Semarang),Bangbang Wetan (Surabaya),Maneges Qudroh (Magelang) dan masih banyak yang lainnya.Itu semua kegiatan sosialnya,ia melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai,pola-pola komunikasi,metode penghubungan kultural,pendidikan cara berfikir,serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.Kalian kapan-kapan harus datang ke Negeri Indonesia untuk belajar kepadanya,Beliau merupakan penulis dengan banyak karya diantaranya Dari Pojok Sejarah,Sastra yang membebaskan,Markesot Bertutur,Markesot Bertutur lagi,Opini Plesetan,Indonesia Bagian Dari Desa Saya,Slilit Sang Kyai dan lain sebagainya.”

“Salah satu kolom di Buku ‘Slilit Sang Kyai’ ingin aku beritahu kepada kalian,Tugas manusia dibumi ini menjadi Khalifatullah tetapi apa jadinya jika hal tersebut berbenturan dengan ibadah-ibadah pribadi yang mengindikasikan sikap Abdullah (Hamba Allah).Dikisahkan disana,Ada kyai yang bimbang antara memilih untuk sholat dahulu atau menyelamatkan semut yang berada di air yang digunakan untuk wudlu,waktunya bersamaan.Menyelamatkan seekor semut memang terlihat remeh tetapi dia kan makhluk hidup juga dan tugas kita menjadi khalifatullah bukan? Akhirnya ia memilih untuk meninggalkan sholatnya dahulu demi menyelamatkan semut itu.jelas sekali bahwa Sang Kyai memilih menjadi khalifatullah dengan meninggalkan egonya yang Abdullah.Jika ia memilih Abdullah (hamba Allah yang taat kepada perintahNya) maka ia akan memilih sholat dan membiarkan semut itu mati.Cerita lainnya,saat mau sholat jum’at kebetulan sudah mendekati akhir waktu,ia mendapati ada kejadian tabrak lari dan yang ditabrak sekarat.Kondisi saat itu tidak ada orang lain cuman ada dia seorang.Ia bimbang memilih untuk sholat jumat karena itu kewajibannya atau siap menanggung dosa pribadi untuk menyelamatkan orang yang tertabrak itu.Jika ia orang yang hanya fokus pada ibadah indifidual maka ia dengan perasaan tidak bersalah akan meninggalkan orang yang sekarat itu dan bisa jadi orang yang tertabrak itu akan mati tetapi jika ia lebih memfokuskan ibadah sosial yakni menjadi khalifatullah maka ia siap menanggung dosanya tetapi ia akan berusaha keras menyelamatkan orang yang sekarat itu untuk dibawa ke rumah sakit.Suatu saat kita akan dihadapkan pad hal-hal semacam itu dan kalian harus bersikap bijak,siap berkorban siap menjadi khalifatullah.”

“Tetapi pernyataan itu bukan berarti malah meremehkan ibadah pribadi yang sifatnya wajib,hal itu berlaku jika kita dihadapkan pada hal-hal yang terjadi bersamaan tetapi jika kita bisa mencari celah untuk menyelamatkan ibadah kedua-duanya yakni (yang sifatnya indifidual dan sosial) maka itu bagus tetapi jika tidak bisa maka kalian harus bersikap layaknya Kstaria.Jadilah Khalifatullah”

“Kalian harus hati-hati dengan perilaku pencurian meskipun itu kelihatannya remeh.Dikisahkan di kolom Slilit Sang Kyai,kyai mendapat masalah di alam akherat gara-gara mengambil kayu kecil untuk membuang slilitnya.Kyai itu menyangka kayu itu persoalan remeh dan tidak apa-apa tetapi Allah itu Maha Adil,hal itu menjadi kendala baginya masuk surga.Itu baru pencurian kayu kecil,bagaimana dengan pencurian skala besar,korupsi misalnya.Hal itu sudah barang tentu akan makin mempersulit jalan kita di akherat dan bisa-bisa kita tergelincir masuk ke neraka.kalian harus hati-hati ya”

Sang Kyaipun berangkat ke sungai.Tetapi pernyataannya bahwa akan maiyahan di bawah sungai itu ia mau mencari ikan dengan cara menyelam ke sungai.Sang Kyai sudah terpaut hatinya dengan Allah.Setiap hembusan nafasnya keluar nama Allah di dalam hatinya sehingga kegiatan apapun ia namakan maiyah.

Sarpin & Saimun masih menyangka gurunya bisa bernafas di dalam air,padahal sudah jelas gurunya tak punya insang,sepertinya mereka harus datang ke sungai itu untuk memastikan bahwa Sang Kyai Sengkelat itu sedang mencari ikan bukan malah disangka bisa hidup atau bernafas dalam air.Kyai Sengkelat hanyalah kakek tua umur 70an yang masih suka mencari ikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s