Kisah Sarpin Dan Saimun Part 14 : Jagalah Indonesia

oleh : Aamir Darwis

Ternyata Sarpin & Saimun baru sadar bahwa Kyai Sengkelat tidak benar-benar bisa bernafas di dalam air seperti persangkaan mereka,Hal itu karena Kyai Sengkelat pulang dengan tangkapan ikan yang lumayan banyak dan Sang Kyaipun menjelaskan bahwa  ia baru saja mencari ikan.

Dari tangkapan itu,kini mereka bisa makan malam dengan daging ikan,dan kini mereka sedang melakukan pembersihan ikan dengan cara kotoran ikan dibuang dan di cuci ikannya,sambil berbuat seperti itu Kyai Sengkelat berbicara lagi tentang Kebangsaan.Supaya kedua pemuda itu bisa menerima bahwa harus cinta tanah air.

Sang Kyai pun memulai pembicaraannya…

“Orang-orang yang hidup saat ini,di Negeri kita ini,semakin ragu dengan bangsanya sendiri,terlepas dari pengaruh apa,yang jelas akhir-akhir ini banyak yang tidak percaya diri dengan bangsanya.Mereka nngaya ingin membikin negara khilafah.Menyangka negara kita ini,negara bukan islam.Mereka melupakan perjuangan para pahlawan-pahlawan yang dengan gigih,berani memperjuangkan lahirnya bangsa ini.”

“Mereka bisa koar-koar menyalahkan bangsa ini,karena mereka baru lahir saat ini.Coba jika mereka lahir sebelum kemerdekaan,apa ada yang berani menawarkan hal semacam itu? Ingat! Kita itu orang Indonesia yang beragama Islam.Bukan orang Islam yang kebetulan di Indonesia.Kita bukan turis.Jadi jika ada orang Indonesia yang ingin merusak Indonesia,itu aneh sekali.Dari dulu kita tahu bahwa Bangsa ini adalah Bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku,agama,adat,kepercayaan dan lain sebagainya.Kita bisa rukun dan saling menghargai dan itu yang harus kita perjuangkan terus menerus.Saling toleran walau kita berbeda tapi harus ingat bahwa dulu para pahlawan-pahlawan yang berbeda-beda asalnya memiliki satu misi yang sama yakni Membuat Negara Indonesia yang aman, adil dan makmur.”

“Jangan melupakan perjuangan para pahlawan,seperti Jendral Soedirman,Kapitan Pattimura,Cut Nyak Dien,I Gusti Ngurah Rai,mereka berbeda tapi memiliki satu tujuan yang sama.Apa kita ingin menghianati perjuangan mereka? Apa kita akan berbalik badan menentang perjuangan mereka?” Suara Kyai Sengkelat semakin keras menandakan bahwa ia sangat cinta negaranya,dan ia prihatin karena generasi sekarang banyak yang lupa sejarahnya.Dan Ironisnya malahan ada yang akan menentang dan menghianati para pahlawan

Saimun tiba-tiba ingin menanyakan sesuatu hal kepada Kyai Sengkelat.

“Apa maksudnya Islam Kaffah? Apa di jaman Rosululloh ada Negara Islam?” Tanya Saimun

“Di dalam Kitab Suci AlQur’an disebutkan : Masuklah kalian ke dalam Islam (perdamaian) secara penuh (udkhulu fi al silmi kaffah) Albaqarah 208.Disinilah letak perbedaan fundamental diantara kaum muslimin.Jika kata ‘al silmi’ diterjemahkan kata Islam,dengan sendirinya menggiring  sebuah entitas Islam formal dengan keharusan menciptakan sistem yang islami.Tetapi di lain pihak,kita mempertanyakan kehadiran sistem islami itu,yang secara otomatis akan membuat mereka yang bukan beragama Islam menjadi warga kelas dua.Sehingga akan memunculkan ketimpangan sosial.Dampak yang ditakutkan mungkin akan berdampak juga kepada kaum muslimin yang tidak menjalankan ajaran islam secara penuh alias disebut kaum muslim nominal atau abangan yang tentu akan dibilang kurang islami dibandingkan mereka yang menjadi anggota/warga partai/organisasi islam.Yang kita sebut saja kaum santri.”

“Jika ada lagi yang mengatakan perlunya sebuah sistem islami,mengapa lalu ada ketentuan-ketentuan non organisatoris yang harus diterapkan diantara kaum muslimin oleh kitab suci AlQur’an? Sebuah ayat menyatakan bahwa ada 5 syarat untuk dianggap menjadi ‘muslim yang baik’ yaitu menerima prinsip-prinsip keimanan,menjalankan (rukun) Islam secara utuh, menolong mereka yang memerlukan pertolongan (sanak saudara,anak yatim,kaum miskin dan lain sebagainya),menegakan profesionalisme dan bersikap sabar ketika menghadapi cobaan atau kesusahan.”

“Jika kelima syarat itu sudah dipenuhi kaum muslimin tanpa menerima adanya sebuah system islami maka dengan sendirinya sudah tidak diperlukan lagi system menurut ajaran islam.Karena tujuan telah tercapai.Dan perlu diingat tidak ada satupun ayat atau hadits yang mewajibkan untuk membikin negara islam.Yang ada mungkin membuat negeri yang gemah ripah loh jinawi.”

“Dalam Muktamar NU tahun 1935 di Banjarmasin,muktamar harus menjawab sebuah pertanyaan : Wajibkah bagi kaum muslimin mempertahankan kawasan yang waktu itu bernama Hindia Belanda (Sekarang Indonesia) yang diperintah oleh oraang-orang non muslim (Para Penjajah Belanda)? Jawaban Muktamar saat itu wajib karena di kawasan itu yang dikemudian hari bernama Indonesia,ajaran islam dapat dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari oleh warga secara bebas dan dahulu ada kerajaan-kerajaan Islam di kawasan itu.Dengan demikian,tidak harus dibuat system islam dan dihargai perbedaan cara dan pendapat di antara kaum muslimin di kawasan tersebut”

“Perkembangan sejarah Islam telah menunjukan tidak adanya system tunggal maupun menetap dalam Islam.Umpamanya saja,tidak ada cara untuk menetapkan pergantian pemimpin.Dari Abu Bakar ke Umar kemudian ke Utsman untuk kemudian ke Ali kemudian ke para raja setelah mereka kemudian para presiden hingga para amir dimasa kini,semuanya menjadi saksi bagi kelangkaan adanya suksesi dalam islam,walaupun harus ada suksesi sebagai tuntutan sejarah tanpa disebut caranya.”

“Islam tidak mengenal pandangan yang jelas dan pasti tentang pergantian kepemimpinan.Itu terbukti ketika Nabi Muhammad SAW wafat dan digantikan Abu Bakar.Pemilihan Abu Bakar dilakukan melalui bai’at oleh pemilihan kepala suku dan wakil-wakil kelompok ummat yang ada pada saat itu.Sedangkan Abu Bakar sebelum wafat menyatakan kepada kaum muslimin,hendaknya Umar bin Khattab yang menggantikan posisinya.Ini berarti system yang dipakai system penunjukan.Sementara Umar menjelang wafatnya meminta agar penggantinya ditunjuk melalui dewan ahli yang terdiri dari 7 orang.Lalu dipilihlah Utsman bin Affan untuk menggantikan Umar.Selanjutnya Utsman digantikan oleh Ali bin Abi Thalib.Pada saat itu Abu Sufyan juga telah menyiapkan anak cucunya untuk menggantikan Ali.Sistem yang ini kelak menjadi acuan untuk menjadikan kerajaan marga yang menurunkan calon-calon raja dan sultan dalam sejarah islam.Jadi sudah jelas sekali,system yang dipakai dalam memilih pemimpin itu tidak sama.Besarnya negara yang direalisasikan oleh Islam juga tak jelas ukurannnya.Nabi Muhammad SAW meninggalkan madinah tanpa ada kejelasan mengenai bentuk pemerintahan kaum muslimin saat itu.Tidak ada kejelasan misalnya negara islam yang diidealkan bersifat mendunia dalam konteks negara bangsa (nation state) ataukah hanya negara kota (city state).Dan menurut saya,bahwa missi utama Nabi Muhammad SAW bukanlah untuk membangun kerajaan atau negara tetapi seperti Nabi-Nabi lainnya yakni mendakwahkan nilai-nilai Islam dan kebajikan.Dan syariat tidak dibatasi atau terikat oleh negara bahkan ia jauh lebih tinggi lagi karena letaknya ada pada keimanan dalam islam.”

“Oleh karena itu kalian berdua tidak perlu ragu-ragu lagi dengan bangsa ini.Cintailah bangsamu,kuatkan persaudaraan bangsamu dan wujudkan kemakmuran bersama dengan usaha terus menerus”

Pembicaraan Kyai Sengkelat terhenti karena pekerjaan membersihkan ikan sudah selesai,ternyata sebagian ucapan Kyai Sengkelat merupakan kutipan bukunya Gusdur.Dan pandangan itu merupakan pemikiran substantive inklusif.Kyai Sengkelat sudah hafal bukunya Gusdur yang judulnya “ Islamku,Islam Anda,Islam Kita”.Tetapi di lain pihak ada pemikiran legal ekslusif yang totalitas integratifnya dari 3 D : Din (agama),Daulah (negara) dan Dunya (dunia) yang berlawanan dengan pemikiran Substantif Inklusif.Kyai Sengkelat mengira bahwa di Indonesia pemikiran Substantif Inklusif lebih tepat bahkan pas untuk diterapkan di negara Indonesia.

Tetapi apapun yang terjadi terlepas dari perbedaan pendapat,kita sebagai warga negara harus bahu membahu saling tolong menolong dalam meraih cita-cita bangsa ini.Menjadi negeri yang Baldatun Thoyyibatun wa robbun ghofur

Aku Cinta Indonesia,Aku Orang Indonesia,Aku Bangga menjadi Indonesia dan Aku akan menjaga Indonesia,demikian slogan yang diucapkan Sarpin & Saimun,dikatakan dengan suara lantang dan penuh semangat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s