Romantika Kopi Bajingan 1

oleh : Aamir Darwis

Slendem,Pak Kumis,Aman dan Amar tampaknya sudah siap memulai diskusinya. Malam itu terasa hikmat memang, terlihat mereka sangat menikmati romantika kehidupan.Kopi hitam dan sebungkus rokok menemani aktivitas itu.Canda tawa sambil sesekali ledek-ledekan sudah biasa bagi mereka karena itu menjadi tampak asyik dan rame’.Itu tidak menjadi masalah karena mereka sudah deal hatinya sudah sedemikian akrabnya sehingga guyonan yang berisi ledek-ledekan terkesan biasa saja.Bahkan malah mengakrabkan diri mereka masing-masing.

Slendem memulai diskusi dengan paparannya.

“Kita mungkin sebaiknya mengganti kata ‘koruptor’ dengan kata ‘maling rakyat’.Jika mendengar koruptor terkesan bahwa mereka maling cerdas padahal mereka kan dedengkot para maling.Terkesan mereka lihai beretorika padahal sebenarnya busuk.Hukuman penjara tak akan membuat mereka jera,hukuman mati dan dicabut kewarganegaraan serta diasingkan.Saya rasa lebih pas”

Pak Kumis mengomentari,
“Tumben-tumben nieh,Nak Slendem mau bicara politik.Biasanya asyik ngobrolin rencana liburan.Ngomong-ngomong tentang liburan.Mengapa liburan tampak asyik dan menyenangkan? Bisa jadi karena siempunya baru berkunjung ke tempat itu sesekali coba kalo berkunjung tiap hari,saya rasa ada jenuhnya juga ada rasa bosennya juga”

Pak Aman yang sedang rokokan langsung mematikan asap rokoknya sambil kemudian urun rembug

“Ini malah liburan segala.Kita disini bukannya mau rembug masalah yang lagi viral belakangan ini.Mengenai tentang kasus penculikan anak ini gimana? Ini meresahkan dan harus dicek kebenaran beritanya”

“Jika memang itu benar adanya.Jangan sampai kita nge-share berita itu ke tempat/daerah yang tidak ada kasus itu.Jika beritanya di Jakarta ya cukup share di Jakarta,jangan malah dishare ke seluruh Indonesia.”

Slendem langsung nyeloteh
“Tunggu… Tunggu… Itu memang benar tetapi bukannya itu tak mungkin direm.Media pers kan mengudara ke seluruh Indonesia.Bahkan masuk ke fikiran tiap-tiap individu dengan gadgetnya”

“Karena itu menurut saya tiap individu harus mempunyai mental kuat dalam memahami setiap berita yang datang.Cek kebenaran beritanya,Ada manfaatnya atau malah negatif.Jika sudah bisa mengenali ini kita bisa menyeimbangkan cara berfikir.Dari hal kasus ini manfaatnya jelas ada.Orangtua harus memproteksi anaknya tetapi dengan sewajarnya,negatifnya masyarakat menjadi resah.Namun jika sudah mengenali cara berfikir ini tak semestinya kita resah.Ambil positifnya buang yang negatif.Dan ini berlaku bukan hanya untuk kasus penculikan.Jika ada berita lagi harus dicek dan teliti positif negatifnya.Kita juga harus memastikan yang dishare sesuai yang ada dan relevan pada daerah tersebut”

Namun Pak Kumis malah mengalihkan berita ini ke kasus viral lainnya yakni pemboikotan artis di medsos.

“Bagaimana pendapat bapak-bapak mengenai pemboikotan di media sosial.Korbannya artis ternama..”

Amar yang dari tadi diam  kali ini ikutan ngomen.Tentunya pendapat fikirannya sendiri.

“Jika kita mau lebih jeli.Pemboikotan itu berawal dari salah output ucapan.Begitu juga dengan Bapak Ahok dan Habib Rizieq.Mereka didukung dan juga dihina.Mereka dihina juga gara-gara salah output ucapan.Terbukti benar bahwa mulutmu itu harimaumu.Ingat Iwan Bopeng yang nantang TNI itu juga gara-gara output khilaf ucapan.Komedian Uus juga begitu.Dan yang terbaru ialah Inul yang membuat blunder status.Semua problemnya sama yakni tidak menjaga kata-kata.Jika Ahok dan Habib Rizieq ada pendukung yang masif.Lain cerita dengan Uus,Iwan Bopeng dan Inul.Mereka individu dan mereka jelas mendapatkan imbas yang signifikan.Dan ironisnya sebagai penikmat berita masih banyak yang mengomentari dengan rasis,ungkapan kebencian,fitnah,sumpah serapah.Jelas ini bukan akhlak Muslim.Orang Muslim boleh saja menentang tetapi dengan cara ksatria yakni tidak menjatuhkan harkat martabat yang dibenci.Juga tidak boleh berucap umpatan-umpatan.Jadi jika ada muslim yang masih suka berkata-kata kotor bisa jadi itu cuma muslim ktp.Rosululloh tidak mengajarkan membalas kejahatan dengan umpatan-umpatan.Tetapi beliau membalas dengan kata-kata yang baik.Jadi saya rasa tidak perlulah boikot-boikotan.”

Semua memperhatikan dengan seksama pendapat Amar terutama Pak Kumis.Ia juga setuju dengan hal itu.

” Saya setuju Mas Amar,ini juga berlaku kedepannya.Jika ada pihak yang output ucapannya salah.Boleh kita menentang tetapi jangan membalasnya dengan umpatan-umpatan.”

“Dari semua kasus yang dibicarakan tadi saya paling marah sama kasus korupsi e-KTP.Yang didalangi anggota-anggota DPR.Tetapi saya juga kasian pada mereka karena akhlaknya lebih hina daripada binatang.Jika mendengar korupsi apa yang kita sesali?”

Aman menjawab,
“Ya uangnya.Lumayan jika uang sebanyak itu untuk biaya sekolah anak-anak kurang mampu.Tetapi brengsek juga mereka,rakus dan serakah”

Pak kumis langsung bereaksi dan menjawab balik,

“Ini lah mental kita.Mental materialistik.Korupsi yang harus disesali utamanya bukanlah uangnya.Berapapun banyak itu.Tetapi yang harus kita sesali adalah akhlaknya.Bagaimana ia melakukan korupsi menunjukan betapa buruk dan bejat akhlaknya.Dan saya rasa memilih calon pemimpin lewat pemilu itu sama saja.Mereka pakai modal dan tentunya pengin balik modal.Cara terbaik menumpas korupsi dengan mengganti generasi yang lebih baik dalam bidang akhlak.Tetapi ini masalahnya? Kebanyakan orang baik takut ikut dunia politik.”

Diskusi pun dihentikan karena kopi hitam bajingan telah habis.Hanya tersisa harapan akan bumi yang semoga menjadi semakin lestari.

Iklan

5 thoughts on “Romantika Kopi Bajingan 1

  1. Benar mas.. Orang sudah kehilangan Batasan di Internet.. Bebas ngomong apa saja.. Dan ini masalah karena tiap hari bnyk calon” Netizen baru.Sosialisasi bijak internet hrsny digalangkan pemerintah.Supaya masyarakat mjd cerdas dlm berinternet

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s