Anak Pemulung VS Anak Konglomerat

oleh : Aamir Darwis

Pemandangan di Kota A yang hingar bingar kini terpusat,di Jalan Merdeka.Ada dua anak sedang berkelahi.Bukan tanpa alasan mengapa ramai orang membicarakan perkelahian itu,karena usut punya usut satu dari dua anak yang berkelahi itu merupakan anak wali kota di kota tersebut.

Katakanlah,Namanya Si Boy.Jika dilihat dari kacamata dunia,sungguh beruntunglah ia.Punya wajah tampan,anak wali kota dan kaya raya pula.Tapi dibalik anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya,ia adalah anak yang nakal,angkuh dan suka berbuat onar.

Di lain pihak,Udin adalah anak seorang pemulung,hidupnya miskin,dan orangtuanya sangat berharap dengan Udin untuk melanjutkan sekolahnya.Udin merupakan anak yang pintar.

Kejadian perkelahian itu bermula,saat Bapaknya Udin yang sedang memulung tiba-tiba ditendang dari belakang oleh Si Boy sebab katanya mengganggu pemandangan matanya.

“Bapak jelek..tempatmu bukan disini,sana di kolong jembatan!” Sambil marah-marah,Si Boy menendang pantat Pak Sahrul (Bapaknya Udin)

Pak Sahrul yang kaget tak bisa menghindar,ia jatuh dan terprosok ke bak sampah di dekatnya.

Dan kejadian ini,terlihat jelas di depan mata Udin,dan betapa marahnya dia.Sehingga perkelahianpun terjadi.

Akhir dari perkelahian itu,Si Boy babak belur dihajar Udin,sebab Udin merupakan anggota pencak silat di sekolahnya.

Beberapa haripun berlalu..

Udin harus menanggung perbuatannya,ia kini di penjara sebab memukuli Si Boy.

Betapa sedih dan menderitanya Bapak Sahrul,anak semata wayang yang diidam-idamkan untuk menjadi orang sukses dan berguna bagi keluarganya,kini harus mendekam di penjara.

“Owalah,Din.. Mengapa kamu tidak sabar saja..Kita ini orang kecil,mbok ya kita pasrah saja..Bapak sudah mewanti-wanti kamu jangan dekat-dekat ataupun mengganggu Si Boy,dia itu anak wali kota,dia itu kebal hukum..”Curhat Pak Sahrul kepada Udin

“Maafin Udin,Pak..Udin tidak tega..Bapak dibegitukan..Udin janji setelah Udin bebas Udin takkan mengganggu Si Boy lagi” Jawab Udin dengan tangis air mata di pipinya

Kini,hari-hari yang dilalui keluarga Bapak Sahrul,hanya diisi dengan aktifitas memulung saja.Padahal dulu,jika malam Udin sering ngobrol suasana-suasana yang lucu sehingga dapat mengobati penderitaan mereka.Tetapi kini hanya sepi,yah.. hanya sepi yang dilalui keluarga Pak Sahrul.

 

Pagi hari tiba..Pak Sahrul yang sedang memulung..istirahat di warteg Mbok Ranti.Dan sedang mendengarkan perbincangan orang-orang disana.

“Katanya,hukum bisa dibeli.Jika kita punya uang..kita bisa menyulap penjara jadi hotel,salon ataupun kantor.” Kata Pak Dono

“ia..aku juga mendengar beritanya seperti itu,bahkan katanya ada tersangka yang bebas keluar penjara dan main di restoran.Selfie juga pula” Pak Sudrun menimpali

Pak Sahrul,yang mendengar berita itu,terpengaruh..ia ingin membebaskan anaknya dengan menyuap polisi layaknya seorang koruptor yang kaya raya.

Tetapi apa yang akan dicuri oleh Pak Sahrul,tiba-tiba ia melihat toko emas yang satpamnya kosong.Sedang bepergian pikir pak Sahrul.

Ia masuk dan pura-pura beli sambil memasukan satu per satu emas ke tas kecilnya.Tetapi apa mau dikata,Pak Sahul yang tidak berpendidikan tinggit tidak tahu menahu,ada cctv di toko emas itu.

Dalam hitungan detik saja,ia langsung di tangkap dan dibawa ke kantor polisi.

Ia berteriak-teriak

“Aku hanya ingin menolong anakku,aku orang miskin,,tolong bebaskan anakku..” Pak Sahrul berteriak sambil air matanya bercucuran.

Begitulah hukum di negara kita,Hukum hanya milik orang yang berduit,penjara bisa disulap jadi hotel atau salon ala pejabat koruptor,hukum tak punya undang-undang tentang apa tujuan orang mencuri.Orang yang mencuri atas dasar kelaparan dan kehausan tetap akan ditahan layaknya orang mencuri atas dasar kekayaan.Orang yang mengambil kayu yang tidak seberapa jumlahnya untuk keperluan memasak tetap akan ditahan seperti orang yang mengambil kayu atas dasar kekayaan

Jika kita melihat insiden tabrak lari,kita tidak harus menolongnya sebab tidak menolongnya kitapun tidak akan bersalah secara hukum,justru jika kita menolong malah akan dicecari pertanyaan-pertanyaan layaknya kita adalah tersangka tabrak lari itu.

Tetapi apakah kita harus bersikap seperti itu? Apakah hukum adalah segala-galanya di negeri ini? Bukankah akhlak lebih tinggi dari hukum? Mengapa kita tidak tanyakan sebab apa orang itu mencuri dan memukuli? Sebab apa orang itu mengambil kayu yang jumlahnya sedikit itu? Pantaskah di hukum bertahun-tahun seperti pejabat koruptor yang korupsinya jelas-jelas karena pengin kekayaan?? Manakah yang lebih tinggi di negeri ini,hukum atau akhlak? Jawabannya ada di dalam hatimu masing-masing.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s