Kisah Sarpin & Saimun Part 29 : Lebaran atau Liburan ?

oleh : Aamir Darwis

Perjalanan Saimun dan gurunya pun berlanjut,Kini mereka melewati hutan belantara.Banyak pepohonan berjejeran,burung-burung saling pamer suaranya masing-masing.

“Mun,istirahat dulu disini.Tanpa terasa sebentar lagi bulan puasa dan mendekati idul Fitri.Coba apa pendapatmu tentang bulan puasa dan idul Fitri,setidaknya ada tidak yang perlu dikritisi tentang Bulan Puasa di Kerajaan BlimbingWesi ini?” Tanya Mbah Kyai Sengkelat

Saimun pun sadar bahwa gurunya sedang memancingnya untuk berfikir.Ia pun berusaha menelaah dan mencermati Bulan yang paling dirindukan kebanyakan umat muslim itu.Bulan yang didalamnya ada malam setara seribu bulan.

Ia pun memulai pendapatnya,

“Idul Fitri merupakan kesempatan yang baik untuk saling bersilaturahim dengan sanak saudara,tetangga dan umat muslim lainnya.Tradisi halalbihalal yang sejarahnya adalah lobi dari para Walisongo untuk rakyat Indonesia.Ini memiliki semangat yang sejalan dengan ajaran Islam yakni menyambung silaturahim.Setelah sebulan penuh berpuasa dan semoga diharapkan kembali kepada Fitri atau fitrah yang suci,diampuni dosanya oleh Allah SWT maka kini tinggal membersihkan dosa sesama manusia dan itu ada dalam halalbihalal.Juga bisa dijadikan forum silaturahim terhadap sesama manusia,acara reunian sekolah juga sering dilaksanakan pada kegiatan ini.Kadang-kadang malah ada di forum buka puasa bersama.Ini tradisi Kerajaan yang bagus.Kita patut bersyukur karena Para Wali telah memberi tonggak tradisi ini.Coba tengok di Timur Tengah yang notabene Negeri asal Islam setelah lebaran,kebanyakan malah melakukan liburan.”

Mbah Kyai Sengkelat tersenyum tipis,tampaknya ia sangat kagum dengan muridnya yang satu ini.

Saimun melanjutkan kembali,

“Namun untuk menyambut lebaran tak sederhana yang dikira,umat Islam mempersiapkan tempat yang bagus,bersih-bersih rumah,dicat,direnovasi dalam rangka menyambut para tamu yang akan datang.Perlu membeli pakaian yang bagus,perlu hidangan yang lezat dan bagi para perantau perlu  mudik alias pulang kampung.”

“Dan buat para perantau yang hidup dalam rutinitas kesibukan di pabrik atau kantornya,dijadikan robot-robot peradaban dan jarang mendapat nilai-nilai kemanusiaan akan menjadi kebahagiaan buat pemudik semacam ini.Tetapi sayangnya sebagian pemudik membawa budaya materialisme dan pragmatisme ke desanya masing-masing.Mungkin untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat di lingkungannya,malahan ada yang sampai pamer kemewahan seperti membeli pakaian yang mahal,gaya bicaranya dirubah sok anak kota,bahkan ada yang sampai menyewa mobil agar dilihat sukses.Ini menjadi masalah karena akan menimbulkan ketimpangan sosial dan rasa iri para masyarakat kampung.”

“Padahal dalam sebuah qaul bahwa tidaklah yang dimaksud lebaran itu orang yang memakai pakaian serba baru,makan makanan yang lezat,atau mengisi lebaran dengan kemewahan tetapi lebaran adalah orang yang bertambah taatnya kepada Allah SWT.Ini yang paling tepat,lebaran haruslah menambah taat dirinya kepada Allah.Masalah pakaian dan segala pernak perniknya hanyalah simbol uforia sesaat yang tak terlalu penting.”

“Dan di dalam idul Fitri ada zakat-zakat baik itu zakat fitrah maupun zakat mal yang tentunya wajib buat siapa saja yang mampu dan mencapai khaul.Zakat-zakat tersebut harus diberikan kepada yang berhak menerima.Terutama fakir & miskin.Dan golongan lain yang membutuhkan.Permasalahan di lapangan adalah tidak meratanya distribusi zakat tersebut.Amil zakat jarang ada di kampung-kampung.Sebagai distribusinya langsung.Ini menjadi tidak merata karena orang yang zakat akan memilih sendiri calon yang akan diberi.Dan kebanyakan yang paling banyak malah Ulama/Kyai ,yang tentunya sah-sah saja karena Ulama/Kyai juga bagian yang mendapatkan zakat yakni pejuang Agama Allah.Tetapi menjadi tidak merata dan berimbang karena zakat-zakat akan menumpuk di satu pihak.Sedangkan fakir miskin malah sedikit mendapatkan.Seharusnya distribusi merata bahkan fakir miskin bila perlu diutamakan.Permasalah terjadi juga karena Ulama/Kyai hanya dizakati atau disedekahi saat-saat bulan puasa saja,padahal seharusnya ada dana dari masyarakat khusus untuk mereka.Karena mereka telah berjuang membela agama Allah.Dan mereka pantas mendapatkan itu.Sehingga semua mendapatkan haknya sesuai dan tepat.Ulama/kyai mendapatkan haknya.Fakir & miskin juga mendapatkan haknya.”

Saimun mengakhiri pendapatnya,Mbah guru malah tidak memberi tanda apa-apa.Wajahnya datar.Tidak terlihat senyum dan juga tidak terlihat cemberut.Tetapi tiba-tiba beliau malah berucap,

“Pendapatmu bagus,semoga bermanfaat.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s