Kisah Sarpin & Saimun Part 30 : Pendidikan Cara Berfikir

oleh : Aamir Darwis

Sambil berjalan tertatih-tatih karena kakinya sakit,Saimun mengikuti gurunya.Kini mereka balik ke gubug setelah beberapa hari luntang-luntang di hutan.Perjalanan memang agak lambat dikarenakan semak belukar dan rute yang sulit.

Di tengah proses kepulangan itu,Mbah Kyai Sengkelat bercerita tentang Pelajaran logika,filsafat dan agama.Sedangkan Saimun seperti biasa,memperhatikan dengan saksama.

Mbah Kyai Sengkelat memulai pembicaraannya,

“Dalam sejarah peradaban manusia,kita mengenal beberapa bangsa yang menjadi besar karena sokongan dua tradisi yaitu tradisi berfikir bebas dan tradisi tanggung jawab ilmiah.Diantaranya Yunani Kuno dengan beberapa filsufnya yakni Sokrates,Plato dan Aristoteles.Keberhasilannya menemukan teori tentang alam,manusia,logika,filsafat dan agama.Bahkan diantara teori tersebut ada yang masih relevan sampai saat ini yakni teori negara demokrasi karangan Aristoteles.”

“Selain Yunani Kuno,kita juga mengenal Prancis di periode awal masa modern.Kesadaran rasionalitasnya saat itu mampu melahirkan revolusi prancis.Peristiwa pendobrakan nilai-nilai primitive yang dianggap membelenggu nilai eksistensi manusia.Kesadaran rasionalitas Bangsa Prancis disemangati filsafat subjektivisme dimana filsafat ini menyatakan bahwa manusia eksistensial dan otentik adalah manusia subjek yang sanggup mengatasi semua benda dan materi di luarnya.Tetapi filsafat ini sangat rancu dan berbahaya karena bisa dikategorikan menjadi kafir karena menentang eksistensi adanya Tuhan.Namun nilai yang bisa dipetik dari hal itu adalah semangat menjadi manusia eksistensial yang memiliki kebiasaan kreatif dalam memfungsikan fasilitas kemanusiaannya menuju cita-cita manusia yang berbudi pekerti luhur.”

Saimun bengong dan tak percaya,Gurunya itu tahu hal semacam itu.Padahal hidupnya sendirian di tengah hutan lagi.Saimun semakin kagum dengan gurunya.

“Kelemahan filsafat semacam itu adalah tidak menghadirkan fungsi hati sebagai dasar kemanusiaan.Hati nurani menjadi penting guna menyeimbangkan fungsi jasadi dan rohani.Dan di negeri kita ini kebebasan berfikir dan tanggung jawab ilmiah masih amat jauh dikarenakan sistem pembelajaran kita yang masih dalam tanda kutip ‘mengawang-awang’ yakni seperti diistilahkan paolo freire bahwa sistem hafalan hanya mengenalkan ilmu terbatas yang tekstual dan tidak realistis.Bukan sistem teoritis itu tidak penting,hanya saja harus seimbang bahkan jika perlu ilmu praktek lebih digiatkan.teori tanpa praktek itu buta,praktek tanpa teori itu hambar jadi dua-duanya harus jalan berbarengan dan saling melengkapi.”

“Maka untuk itu diperlukan secara terus menerus menuju hal yang baik.Pertama,para decision maker yang punya keinginan baik mewujudkan sistem pendidikan di Indonesia harus diapresiasi dan diberi ruang untuk mewujudkan cara sistem itu dilaksanakan.Kedua,Perubahan metode yang monologis yang hanya terpaku satu arah dirubah  ke metode dialogis yang melibatkan partisipasi peserta didik.Ketiga,melibatkan pendidikan dalam persoalan sosial sehingga diharapkan pendidikan menjadi solusi masalah sosial tersebut.Masyarakat dan pendidikan harus terpadu dan selaras.”

Saimun hanya terdiam saja,membayangkan kelak ada sistem yang bagus yang bisa meningkatkan moral dan juga ilmu para manusia di negerinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s