Sampingan

Dongeng Mbah Somad

oleh : Aamir Darwis

Dulmatin sedang merenung di rumahnya.Kondisi rumahnya yang mewah dengan interior dan perabot yang serba ada,tidak membuat Dulmatin merasa tentram.Hatinya kesepian.Bukan karena tidak mempunyai pasangan,Dulmatin sudah berkeluarga anaknya pun sudah dua.Uang yang selama ini ia cari tak bisa membuat hatinya damai.Barang-barang yang ia beli dari mobil,tivi super besar,gadget sekelas iphone terbaru,laptop berharga puluhan juta,motor ninja keluaran terbaru,dan lain-lainnya.Hanya bersifat sementara artinya barang itu akan terasa indah saat mau membelinya tetapi jika sudah dibeli dan dipakai lama maka barang itu menjadi beban menjadi penghalang.

Kesepian ini semakin menjadi-jadi manakala dirinya sudah menganggap bahwa akherat itu nomer dua.Memang ia tak pernah jujur untuk ngomong dan berbicara seperti itu tetapi perilakunya jelas mengindikasikan bahwa akherat telah ia nomer duakan.Dunia ia kejar bahkan harus sampai jatuh bangun peras keringat walau nyawa jadi taruhan.

Wolakwaliking Jaman,demikianlah persepsi Dulmatin.Manusia sekarang digiring untuk mencintai harta dengan cara berlebihan,seolah ilmu agama sudah tidak diperlukan lagi.Tidak apa-apa bodoh,akhlak buruk ataupun jahat asalkan kaya raya pasti akan dimuliakan manusia.

Begitulah anggapan jahat Dulmatin.Ia sudah terserang virus kapitalis materalistis.

Cerita Dulmatin itu dibacakan Mbah Somad.Kakek yang kesehariannya bekerja sebagai petani di sawah itu menceritakan kisah Dulmatin kepada cucu-cucunya.

“cucu-cucuku kelak kalian akan dewasa.Mengarungi kehidupan masing-masing.Tapi ingatlah cucu-cucuku yang baik,bahwa orangtua kalian bahwa kakek bersama ibu bapakmu mengajarkan ilmu agama supaya kalian menjaga seumur hidup kalian bahkan sampai kalian mati.Apapun kondisimu kelak baik itu susah senang sedih sengsara,kalian jangan sampai meninggalkan agama.Jangan meninggalkan sholat lima waktu,tetap berbakti kepada orangtua dan jangan tinggalkan membaca Alqur’an.” Kata Mbah Somad

“ia,kek.kami tidak akan melupakan jasa-jasa ibu bapak.Dan juga kakek tentunya.cerita Dulmatin kelanjutannya gimana kek?” Tanya Ipul (salah satu dari cucu mbah Somed)

“Ia kek,saya penasaran dengan Dulmatin itu..” Rudi menambahkan (cucu yang lainnya)

Mbah Somad pun melanjutkan kisah Dulmatin itu.

Dulmatin yang kesepian ditengah anggapan jahatnya itu ingin sekali pulang kampung.Dulu waktu sebelum sukses seperti sekarang,ia rajin ke masjid mengaji bersama teman-teman di masjid dan senang sekali mengadakan tadaburan AlQur’an.

Tetapi setelah menjadi orang besar,aktifitas baik itu ditinggalkan.Sudah jarang ke masjid,sudah jarang mengaji dan kini mengisi hari-harinya dengan dunia dan dunia.Dunia menjadi segalanya bagi Dulmatin.

“Apakah aku bisa diterima di desaku ya? Aku sudah jarang mengunjungi masjid,dan terakhir aku pulang kampung aku malah membentak ibu.”

Begitulah ketakutan orangtua,anak yang sudah jadi orang besar.Baik itu sukses dengan bisnisnya,ilmunya,pekerja ataupun kuliahnya.Ia merasa lebih hebat dari orangtua.Meskipun tidak diucapkan dengan kata-kata,perilakunya sudah menunjukan akan hal itu.Menggurui orangtua,tidak mau bersih bahkan sekedar menyapu halaman rumah,sering menceramahi orangtua dengan ilmu pengetahuannya.Rasa ini sudah tumbuh subur dan menjangkit dalam diri Dulmatin.Orangtuanya yang lulusan SD dianggapnya kolot dan bodoh dan ia menganggap lebih baik dari orangtuanya.

Akhir cerita,Dulmatin mati tertabak saat mengendarai mobil dalam rangka keperluan bisnisnya itu.Uang dan hartanya tak bisa menyelamatkannya,sedangkan amalnya sudah lama ditinggalkan.Bisa jadi ini azab dari do’a orangtua bahwa mungkin orangtuanya sudah tak meridhoinya.Apa jadinya jika Allah dan orangtua tidak meridhoi kehidupan kita? Mau dibawa kemana jasad yang hina dina ini.Mampir ke nerakakah?

Belum cerita itu selesai,kedua cucu Mbah Somad sudah tertidur lelap.Dongeng atau cerita sebelum tidur itupun diharapkan bisa menyadarkan banyak orang.Selamat tidur,jangan lupa berwudlu dan berdo’a ya…

Iklan

2 thoughts on “Dongeng Mbah Somad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s