Romantika Kopi Bajingan 4

oleh : Aamir Darwis

Setelah lama berkecimpung dengan aktivitasnya masing-masing,kini Pak Kumis,Slendem,Pak Dulah,dan Aman mau mengadakan rembugan lagi.Mau mengadakan diskusi lagi.Ala diskusi di pojok warung dengan romantika kopi bajingannya dan rokokan alias kebul-kebul.

Tidak seperti biasanya yang ngopi dan rokokan di pos ronda kini mereka memilih warung Bu Patmi sebagai tempat ngobrol.Merekapun mempersiapkan bahan-bahan beritanya masing-masing supaya dalam pembicaraan nanti lancar dan bisa bermanfaat bagi semua yang hadir.

Obrolan dimulai dengan paparan dari Pak Kumis,

“Kita ini sekarang sedang berada di era media alias era informasi.Kita telah melewati era industri dimana perang besar yang terjadi di dunia ini mengejar akan hal itu yakni sumberdaya alam dan minyak yang melimpah.Jaman sudah berubah,era keterbukaan sudah hadir.Di era informasi ini,kita harus mempunyai dasar perdamaian dan persatuan yang kuat.Di era ini,berkuasalah teori propaganda yakni BIG LIE.Teori yang digagas oleh menteri propaganda NAZI dimana proses terjadinya adalah membuat berita kebohongan alias hoax secara masif ,baik melalui media mainstream atau media sosial sehingga kemudian masyarakat akan mengomentari berita itu sehingga terbuatlah menjadi dua kubu yakni pro dan kontra.Jika masyarakat sudah membicarakan berita kebohongan ini maka ini adalah indikasi berhasilnya misi teori BIG LIE ini.Di Indonesia,era informasi tak ditunjang pemahaman yang kuat dari penduduknya bahwa berita janganlah diterima mentah-mentah,janganlah langsung dikomen karena bisa jadi ini adalah propaganda.Dan pihak yang melakukan propaganda saya kira bukanlah orang yang sembarangan,ia punya kepentingan menguasai dan mengadudomba penduduk kita.”

Slendem langsung berekasi,

“Memang benar kata Pak Kumis,informasi setiap detik selalu terupdate.Ada yang menjadi viral,trending topik bahkan kontroversi.Inilah santapan empuk para pelaku hoax,mereka tidak perduli negara ini akan hancur atau masyarakat akan beradu satu sama lain tetapi dengan keberhasilan hoaxnya maka berhasil pula ia menanamkan uangnya di media sosial ataupun media mainstream.”

Pak Dulah sehabis menyeduh kopi,langsung ikut komen tentang masalah ini,

“Intinya kan kita harus selalu waspada artinya kita harus melihat berita dari medsos atau media mainstream sebagai informasi pembelajaran.Dimana kita hanya mengambil sisi positifnya dan sisi buruknya tidak perlu kita ikut komen karena hanya akan menambah masalah dan tidak merubah keadaan.Kita komen jelek atau menghina orang di media sosial,menjelekan tokoh yang sedang berseteru.Kita harus jujur,ucapan kita tidak akan merubah keadaan itu.Dua tokoh yang berseteru tetap saja berseteru.Justru pers malah semakin memanasi berita ini,bukan? Bukankah lebih baik kita gak usah komen toh kita hanya menambah kekacauan saja.Syarat komen adalah kata-kata kita itu harus mengandung unsur perdamaian dan persatuan bila perlu menyelesaikan masalah.Jika kita masih ngomen dengan ujaran kebencian pada suatu tokoh maka kita harus introspeksi diri.Barangkali ada yang salah dengan kita bermedia sosial di dunia maya.”

Aman pemuda yang baru saja lulus menjadi sarjana,iku ngomen dan urun rembug,

“Kita bisa belajar misalnya dari kasus ‘penistaan agama Ahok’.Kita tidak perlu mencaci maki atau menghina Ahok,kita ambil pelajarannya.Oh ternyata ucapan bisa menjadi seperti itu,berarti kita harus menjaga ucapan kita.Berucap yang baik-baik saja.Dari Kasus Habib Rizieq dimana ia dituduh terlibat chat mesum,kita juga lantas tak usah memaki atau menghina.Mengenai pembelaan Habib Rizieq yang katanya kriminalisasi kita juga tak perlu lantas ikut menjadi berkubu-kubu.Kita harus independen.Buat Ahoker atau pendukung Habib Rizieq,janganlah mendukung secara berlebihan.Toh mereka manusia biasa yang pasti punya salah.Mereka bukan Nabi sehingga posisi kita sebagai fans pun jangan sampai mengungguli kecintaan kita terhadap Nabi.Nabi memiliki tutur kata yang baik,pemaaf,penyabar,dan akhlak yang mulia.Sedangkan Ahok dan Habib Rizieq hanyalah manusia biasa yang bisa salah.Untuk itu kita tak perlu mencaci maki tetapi tebarlah kebaikan dan salam perdamaian.Jika dari mereka ada yang salah ya kita ngomong baik-baik saja.Ambil pelajarannya dari kisah mereka.Kita jangan menambah dosa kita hanya untuk ngomen dan menjelek-jelekan manusia biasa yang pasti punya kesalahan.”

Pak Kumis tersenyum sendiri,ia dulu malah pernah memaki-maki salah satu dari tokoh itu.Ia sebenarnya tahu bahwa umpatan atau maki-makian kepada tokoh tersebut tidak akan menyelesaikan masalah.Bahkan malah membikin masalah bagi dirinya yakni diganjar dosa mengumpat.

“Mengenai bom bunuh diri yang terjadi kemarin.Selalu saja saat bom meluncur akan ada komen-komen.Tetapi yang paling penting kita harus turut berbelasungkawa terhadap korban minimal ya mendo’akan si korban.Kita tak usah memikirkan itu pengalihan isu atau Indonesia sedang terancam atau ketakutan lainnya.Yang penting yang bisa kita lakukan untuk kejadian itu apa.Kita mencaci pelaku bom bunuh diri? Sudah terlambat bom sudah meledak.Kita tuduh ada pihak-pihak yang ikut campur? Belum ada bukti yang pasti akan tuduhan itu.Yang bisa kita lakukan adalah menguatkan persaudaraan kita.apapun agama,ras,suku,atau adat kita harus bersama-sama gotong royong membangun Indonesia yang damai dan bersatu.Jika ada pihak yang berseteru,tak usah ikut berkubu-kubu kita damaikan mereka.Kita ingatkan mereka bahwa kita semua ini saudara sebangsa dan setanah air.”

Pak Dulah kini ikut berkomen lagi,

“Benar sekali kata Pak Kumis,kita harus bersatu dan damai.Jika kita islam ya kita tunjukan Islam yang rahmatanlill’alamin menjadi penebar kedamaian ke seluruh umat manusia.Begitu pula jika saudara kita yang Kristen,Hindu,Budha,atau aliran kepercayaan yang lain.Saya yakin semua agama mengajarkan kebaikan dan kedamaian.Ini tugas para pemimpin agama untuk menyebarkan virus damai dan persatuan.”

“Dan sebagai muslim saya meyakini bahwa memang hanyalah Islam yang mengajarkan kebenaran.Dan saya meyakini ini.Tetapi saya tak memaksa orang lain untuk ikut seperti yang diyakini saya,silakan cari kebenaran masing-masing.Lakum dinukum waliyadin.Untukku agamaku,untukmu agamamu.Apakah ayat ini tak cukup untuk kita saling menghargai kepercayaan orang lain.”

“Dan pada akhirnya kita semua harus bersatu dan menjaga warisan bangsa ini yakni bhineka tunggal ika.Kita memang berbeda tetapi kita tetap satu jua.Kita orang Indonesia yang beragama islam,bukan orang islam yang kebetulan berada di Indonesia.Disini kita bukan turis.Maka jagalah rumah kita ini,jagalah Indonesia.Lindungi persatuan dan kedamaian bangsa ini untuk anak cucu kita kelak dan seterusnya.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s