Romantika Kopi Bajingan 8

oleh : Aamir Darwis

Kesibukan dalam pekerjaan membuat Slendem,Pak Kumis,Amar,dan Pak Dulah sangat jarang untuk kumpul.Sekedar ngopi pun tak bisa,maklum bulan puasa memang tambah sibuk.Pagi sampai sore masih bekerja sementara malamnya juga harus tarawihan dan tadarusan.

Sampai akhirnya mereka bisa kumpul kembali.Itupun harus menunggu lebaran H+2.H+1 biasanya disibukan dengan berkunjung untuk silaturahim dan maaf-maafan baik kepada keluarga,tetangga,sanak saudara,dan masyarakat desa.

Halalbihalal yang merupakan lobi para ulama khususnya Walisongo sangat apik dan menarik.Setelah sebulan penuh berpuasa yang semoga kembali ke fitrah dimana diampuni dosanya dan suci sedia kala seperti bayi yang baru lahir.Menjadi luar biasa karena kita juga punya utang rasa sekaligus utang dari dosa-dosa kita sesama manusia.Diharapkan dengan halalbihalal terputus segala cela antar sesama sehingga tidak sampai dibawa ke ranah pengadilan akherat.Alangkah beruntungnya kita yang menikmati tradisi ini.Kita bisa menerka-nerka ada tidak dosa yang kita lakukan terhadap sesama manusia dan jika tidak ada pun kita harus menyambung silaturahim.Siapa tau dapat teman baru,lebih-lebih dapat pasangan baru.Ini kan nikmat yang luar biasa.

Pak Kumis memulai diskusi seperti biasanya,bisa dikatakan Pak Kumis sebagai Ketua Ndopokan.Forum rembug yang bisa dibahas apa saja,oleh siapa saja asal tujuannya mulia.

“Bulan Puasa telah berlalu.Hari-hari akhir Ramadhan seperti disabdakan Kanjeng Nabi bahwa makhluk selain manusia dan jin menangis sebab berakhirnya Bulan Ramadhan.Umat menderita kerugian yang besar sebab Bulan Ramadhan adalah bulan ladang pahala dan amal yang nilainya gede-gedean dimata Allah.Langit menangis,bumi menangis,batu menangis semua menangis.Hanya Manusia dan Jin yang tidak mendengar tangis mereka.Demikian.Namun kenyataan ini berbanding terbalik bahwa lebaran adalah hari kemenangan.Makhluk selain manusia-jin mengatakan kerugian sedangkan manusia secara nyata malah terpaku dengan uforia yang berlebih.Petasan,Lek-lekan sampai pagi sampai tidak ikut sholat Ied,bahkan ada yang sampai menurunkan derajatnya sendiri sebagai manusia.Mengisi malam lebaran dengan berzina dan mabukan.Ini sungguh ironis.Entah apa yang difikirkan oleh orang semacam itu.Tampaknya kita harus belajar lagi makna hari kemenangan itu kayak apa sih ?” Kata Pak Kumis membuka prolog rembugan kali ini.

Pak Dulah yang pernah mengalami masa kelam saat mudanya dulu,komen duluan,

“Biasanya orang yang masih suka gaya-gayaan kayak gitu.Mabukan,zina,dan perilaku menyimpang lainnya.Bukan karena dorongan nafsunya semata tetapi dorongan pengin dipandang oleh orang lain.Biar dilihat kayak preman sekaligus bebas pertentengan.Biar disegani layaknya gengster.Padahal gengster malah mengendalikan bisnis itu malahan jarang yang suka perbuatan jelek semacam itu.Ini perbedaan antara preman kampung dan preman yang benar-benar preman.Kita bisa belajar hal ini dari film Godfather.Film gengster sejati.Tidak mendidik memang, tapi bisa kita bedakan mana yang preman kampung mana yang preman sungguhan.Demikian.” Pak Dulah menjelaskan hal ini karena dulunya adalah mantan preman.

Slendem mengejar,

“menurut saya kemenangan disini adalah bagi mereka yang berpuasa sungguh-sungguh karena Allah,Berbuat amal Soleh dengan tulus ikhlas dan mengisi Ramadhan dengan ibadah dengan niatan Lillahita’ala.Orang-orang demikian yang menang.Namun hari kemenangan disini bisa diartikan juga kemenangan bagi fakir miskin.Diharapkan dengan adanya momen lebaran,fakir miskin dapat berlebaran layaknya orang yang mampu.Bisa makan,minum dengan cukup,Sandang dan papan juga semestinya mereka diberi supaya tidak ada ketimpangan antara si fakir dan si kaya.Bahkan Kanjeng Nabi menegaskan bahwa siapa yang tidak zakat fitrah bukan bagian dari umat beliau.Saya melihat ini bahwa beliau sangat perduli dengan nasib kaum dhuafa.Sehingga beliau sampai bersabda seperti itu.Namun harusnya kita menginti dari pesan itu.Bahwa memang 2,5% dari harta kita adalah hak untuk kaum dhuafa.”

Amar kali ini juga komen dan urun rembug,

“Saya malah melihat puasa ini layaknya training buat manusia.Bahwa hidup memang fokus kepada apa yang ditahan alias dipuasani.Banyak yang harus kita puasani.Hawa nafsu,marah,iri,dan sifat tercela hendaklah kita puasani seumur hidup dan jangan sampai kita berbuka.Jika kita pandai mempuasani sesuatu untuk kebaikan maka itulah puasa.Allah pun berpuasa.Bayangkan jika Allah tidak berpuasa dari kejahatan manusia.Mungkin bumi ini sudah musnah dan apalah arti manusia yang sebutir ini dijagat raya alam semesta.Kita bukanlah apa-apa.Maka alangkah piciknya jika manusia melakukan kesombongan padahal dirinya sangat kecil sekali.” Ucap Amar

Diskusi kali ini dipungkasi oleh Pak Kumis bahwa kita harus terus meningkatkan kualitas iman dan taqwa.Diharapkan bukan simbolis belaka tetapi diaktualisasikan dengan tindakan yang nyata.

Iklan

2 thoughts on “Romantika Kopi Bajingan 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s