Sampingan

Kisah Sarpin & Saimun Part 35 : Adab Makan & Minum

oleh : Aamir Darwis

Pepohonan yang rindang dan gemericik air sungai menjadi hal yang selalu indah untuk disyukuri.Rasanya kehidupan kerajaan yang tertumpu pada keduniaan telah membuat Sarpin dan Saimun bosan setengah mati.Mereka bersyukur mengenal Mbah Kyai Sengkelat dan lambat laun mereka melupakan ambisinya untuk menaklukan sekaligus mengkudeta kerajaan.

Fokus mereka kini terlempar pada kenikmatan menikmati kehidupan tiap detiknya,mensyukuri nikmat nafas yang selalu berhembus dengan gratis.Bayangkan jika nafas ini disuruh bayar oleh Tuhan bisa jadi manusia akan kelimpungan dan mati mengenaskan.Namun Tuhan yang Maha Pemurah jor-joran dengan Kepemurahannya,ia mengamanati dunia ini untuk manusia.Pesannya supaya manusia menjadi hambaNya yang baik sekaligus menjadi khalifah di bumiNya.

“Pin,jika saya menerka kehidupan.Kita ini seperti ikan yang berada di akuarium.Yang boleh bebas bergerak kesana kemari tetapi masih dibatasi ruang.Sama dengan kita yang dibatasi umur dan waktu.Waktu adalah ruang itu.Sebuah pembatas dimana kita tidak bisa mengelak.Kalau tidak bernilai amal maka bernilai dosa.Waktu sungguh kejam karena ia tidak bisa diulang.Sekali melangkah ia tidak bisa kembali.” Kata Saimun

Sarpin yang sedang memandangi burung tekukur yang sedang asyik bernyanyi,membalas ucapan Saimun.

“Benar,Mun.Kita ini dibatasi umur.Terserah apa namamu,pangkatmu,pekerjaanmu ataupun cita-citamu yang jelas kita ini berada dilingkup ruang waktu.Dan sebagai manusia semoga kita bisa lulus.Sama seperti ikan,ia bisa bernama apa saja melakukan apa saja tetapi pada akhirnya akan mati.Dan yang dikenang hanyalah keindahannya menikmati waktu tersebut.Manusia juga sama.Yang akan dikenang oleh manusia bukanlah nama atau pangkatnya tetapi budi baiknya.”

“Jadi terserah penilaian orang itu seperti apa.Yang pasti harus kita fokuskan adalah kebaikan setiap detiknya.Menjadikan setiap detik dari perilaku kita bernilai amal dan bernilai kebaikan.Meskipun sulit dan pasti akan terhambat karena kita ini manusia yang lemah tetapi kita harus bangkit kembali.Mengupgrade terus menerus supaya tingkah laku kita setiap detiknya bernilai amal.” Sambung Saimun

Namun tiba-tiba Sarpin mengalihkan pembicaraannya,ia malah teringat dawuh Mbah Kyai tempo hari kemarin.

“Kemarin Mbah Kyai dawuh supaya setiap makan dan minum kita harus berdo’a dulu minimalnya mengucapkan basmallah dan diakhiri dengan membaca hamdallah supaya menjadi berkah dan setan tidak ikut makan.Makanan dan minuman yang tidak dido’akan maka setan dengan leluasa ikut memakannya.Mbah Kyai juga dawuh supaya jangan sekali-kali kita mencaci makanan dan minuman.Walau tidak enak misalnya,maka cukup kita tinggalkan saja atau kasih ke kucing saja.Mbah Kyai juga dawuh supaya makan dari tepi piring dulu setelah habis baru yang ditengah.Ini menunjukan kesopanan dalam proses memakan.Makan dengan bersandar juga tidak baik alias makruh.Kita juga jangan meniup minuman karena ditakutkan hilang keberkahannya,jika minuman panas misalnya maka minumlah dengan dikit demi sedikit tanpa harus meniupnya.Meminum juga baiknya sambil duduk karena menunjukan kesopanan.”

Saimun mengingat-ingat kembali pesan itu dan mencoba menerapkan di kehidupannya saat makan dan minum.Usut punya usut apa yang disampaikan Mbah Kyai Sengkelat Tempo kemarin adalah bersumber dari hadits Nabi.Mbah Kyai hanya merangkum dan memaparkannya secara sederhana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s