Kisah Sarpin Dan Saimun Part 36 : Air Dan Wudlu 

oleh : Aamir Darwis

Tiba-tiba sore hari ini mendung dan mulai turun hujan.Hujan adalah rahmat dari Tuhan.Sarpin dan Saimun langsung mengambil pakaian yang mereka jemur dengan tali di depan gubugnya Mbah Kyai.Sedangkan Simbah Kyai sendiri tidak tahu sekarang dimana,Beliau biasa nglayab sendirian sambil menikmati alam dan mensyukuri segala kehidupan.

Setelah semua pakaian dimasukan ke dalam gubug,memang tidak banyak pakainnya,Sarpin dan Saimun hanya membawa 3 stel baju saja,3stel celana dalam,3 stek celana,3 stel sarung,dan satu buah peci.Hal ini menunjukan persis seperti yang diajarkan Mbah Kyai untuk hidup sederhana.

Mereka kini sambil menikmati hujan juga membawa minuman kopi untuk diseduh.Mereka pun ngobrol kembali.

“Jika lihat air,saya teringat lagi proses wudlu,Mun.Bahwa kita harus menyempurnakan wudlu kita meskipun itu dalam kondisi dingin sekalipun.Itu karena yang disabdakan Kanjeng Nabi bahwa menyempurnakan wudlu itu bisa menghapus kesalahan-kesalahan kita.Nabi juga bersabda yang isinya bahwa nanti di hari kiamat orang yang ahli wudlu akan bercahaya wajah dan anggota tubuhnya yang dibasuhi wudlu.Jadi wudlu bukan hanya sekedar membasuh air semata,ia adalah ibadah yang bernilai amal dan sesuatu yang baik untuk kita lakukan.Kita harus terus berusaha menyempurnakan wudlu kita,Mun.” Kata Sarpin 

Saimun merespon,

“Klop setuju banget aku,Pin.Aku malah teringat hadist yang Rosululluh bersabda bahwa seorang yang menyempurnakan wudlunya kemudian mengucapkan Asyhadu alla ilahaillallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rosuluh maka dibukakanlah untuknya pintu surga dan dia bebas masuk lewat pintu yang dikehendaki.Imam Tirmdzi menambahkan ucapan Allahummaj’alni minat tawwabina waj’alni minal mutattohirin yang artinya Ya Allah jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang bersuci.Membaca sampai akhir lebih bagus.Dan semoga saja kita selalu ingat untuk selalu berdoa jika mengakhiri wudlu.” Saimun menjawab

Mereka kini menyeruput kopi seduhannya masing-masing,Sarpin yang perokok langsung kebul-kebul sedangkan Saimun yang bukan perokok menikmati hujan dan mensyukuri akan datangnya hujan.Mereka tidak mau menyalahkan proses hujan.Ada manusia yang saat hujan,nesu minta panas.Saat panas,nesu minta hujan.Padahal kita manusia adalah kaum yang nyadongan yang tidak punya apa-apa bahkan diri sendiri kita inipun milik Tuhan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s