Sampingan

Kenangan Pensil Dikala Senja

oleh : Aamir Darwis

Lintang,begitulah orang-orang memanggilnya.Wajahnya yang cantik,sikapnya yang bijaksana,tuturkatanya yang sopan dan cerdas dalam bidang agama merupakan dambaan setiap kaum Adam di Desa Suryapati.Rasanya membuat iri setiap wanita di Desa itu namun dibalik kecemerlangannya ternyata ada sisi paling menakutkan yang belum didapatkan oleh seseorang cantik yang bernama Lintang,ini.

“Pasrahkan saja ke Allah.Diumurku yang menginjak kepala tiga dan ditengah kesendirianku aku tetap ceria menjalani kehidupan.” Begitu kelakar Lintang

Orangtuanya sudah menjodohkan Lintang dengan Pria yang soleh.Proses ta’aruf pun sudah dilakukan bahkan Lintang sudah berta’aruf sampai tiga kali.Ketiganya gagal dan berakhir dengan sebuah perpisahan.Ada yang gagal karena Sang pria tidak tahan menunggu untuk menikah,ada yang gagal karena sang pria tidak bisa menyeimbangi kebaikan Lintang dan mundur dengan alasan malu karena kalah dalam bidang keilmuan dan ada juga yang gagal karena sang pria keburu meninggal dunia.Terdengar pedih memang.

“Sebab dan dosa apa yang membuatnya mengalami hal pahit semacam itu,aku yang hina ini andai saja diberikesempatan menjadi suaminya tentu aku siap.” Seseorang yang sedang beristirahat disela-sela pekerjaannya ini bergumam demikian.

“Ah,kamu terlalu mengandai-andai.Kamu ini siapa,Mi.Kamu ini kuli panggul.Nyadar diri dong! Lintang itu sarjana.Pokoknya kalau dibandingkan denganmu,bagai bumi dan langit deh!” Lelaki yang disampingnya itu menyindir sekaligus meledek-ledek perkataan Tomi.Ternyata seseorang itu bernama Tomi yang berprofesi sebagai kuli panggul di sebuah toko beras Desa SuryaPati.

Meskipun kesehariannya sebagai kuli panggul, ada hobi lain yang membuat Tomi disenangi masyarakat yakni Tomi mendirikan Kegiatan Sosial yang bergerak dibidang ilmu agama.Tidak hanya sebagai kuli panggul,setiap hari ba’da asar Tomi selalu menyempatkan diri untuk mengajar ngaji anak-anak SD di desa tersebut.

Suatu ketika,Tomi dan Lintang dipertemukan dalam acara ini.Lintang yang bertitel sarjana sekaligus pandai ilmu agama menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat mengajar Tomi.Dan betapa kaget dan deg-degannya melihat seseorang yang diiidamkan itu tiba-tiba datang tanpa mengabari.Seperti tidak ada angin tidak ada badai tiba-tiba hujan mengucur deras

“Bolehkah,aku membantumu mengajar disini.Aku sungguh malu,aku yang bertitel sarjana ini tidak bisa memberi kemanfaatan bagi masyarakat sedangkan Mas ini yang pekerja biasa malah bisa bermanfaat bagi masyarakat.Aku mohon dengan sangat supaya diberi izin mengajar disini,Mas.” Pinta Lintang sambil menganggukan kepalanya

“Gimana ya,bukannya tidak boleh.Tetapi mengajar disini tidak diberi gaji ataupun imbalan.Disini murni kerelaan hati untuk berbagi ilmu.Kalau Mba mau tidak diberi imbalan,boleh-boleh saja Mba.” Ucap tomi dengan nada sedikit terbata-bata dan keringat yang menempel di wajah.

Dahinya tiba-tiba mengkerut,kepalanya basah dengan keringat dingin dan badannya sedikit gemetaran.Maklum untuk hal semacam ini Tomi memang kikuk karena tidak pernah mengalami yang namanya pacaran.Boro-boro pacaran,berduaan dengan wanita yang bukan muhrim saja tidak pernah.

Lambat laun dua anak manusia ini karena sering bertemu dan bertatap muka timbulah bunga-bunga cinta.Kebaikan Tomi dan sikapnya yang baik kepada masyarakat membuat Lintang makin kesengsem dengannya walaupun hanya kuli panggul.Tampaknya Lintang tidak terlalu mementingkan pekerjaan tetapi justru sangat iri dengan kebaikan dan kedermawaan Tomi.

“Apa aku ini jatuh cinta dengan dia ya.Jujur aku sama sekali tidak ada getaran apa-apa di dalam dada ini layaknya seseorang yang mencintai.Aku juga tidak terlalu melihat Tomi sebagai orang yang ganteng ataupun berwibawa.Tapi anehnya,dia selalu membuat aku ingin berbuat menjadi lebih baik.Seolah-olah dia itu malaikat penyelamatku .Aku ini kan gadis tua yang menunggu pinangan seseorang lelaki.” Lintang melamun sambil tersenyum-senyum sendiri.Ditangannya ada pensil bercorak batik pemberian dari Tomi sebagai imbalan untuk mau membantunya.

Esok hari menjelang ba’da asar…

Kilatan warna emas senja sore kali ini begitu murni dan dahsyat.Tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.Seolah-olah waktu yang tepat untuk mengatakan cinta.Dan Lintang pun bertemu kembali dengan Tomi di tempat ngaji seperti biasanya.

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang Tomi selalu ceria jika mengajar namun kali ini wajahnya datar.Seolah-olah ada luka dan duka nestapa yang ditutupinya.Dan ada gerangan apa yang membuat Tomi bertingkah seperti ini.

Lintang yang sedari tadi mengamati dan memperlihatkan wajah murung Tomi kini nekad bertanya, “Mas Tomi,ada apa ya kok hari ini murung.Punya masalah apa barangkali Lintang bisa sedikit memberi solusi.” Lintang menawarkan bantuan

“Bukan apa-apa Lintang.Tetapi memang mungkin ini sudah jalanNya.Aku menulis surat ini dan tolong kamu baca di rumah saja ya.Sebelumnya maaf jika aku berbuat salah selama ini.” Jawab Tomi sambil menyodorkan sepucuk surat tersebut

Lintang pun menerimanya,hatinya berbunga-bunga seolah-olah menyangka bahwa Tomi sedang menyatakan cinta lewat sepucuk surat tersebut.

Dan ketika dibaca,betapa sedih dan kagetnya Lintang.

“Teruntuk kamu,dambaan hatiku. Lintang sahabatku.Lintang karibku.Terima kasih selama ini kamu mau membantu kegiatan-kegiatanku.Aku memang tidak bisa memberimu imbalan tetapi semoga saja hadiah pensil yang kuberikan untukmu menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan.Jujur,aku mengharapkan seperti itu.Aku juga tidak ingin pertemuan denganmu berakhir begitu saja tanpa aku harus meninggalkan perasaanku.Aku tidak bisa mengatakannya secara langsung tetapi aku katakana bahwa aku mencintaimu Lintang.Lebih dari teman biasa.Aku menyukaimu jauh sebelum kamu datang untuk membantuku.Jujur,aku ingin sekali meminangmu dan menikahimu.Tetapi apalah daya,Kondisi yang harus memuat aku pergi lagi,Lintang.Aku ini sebenarnya bukanlah Tomi seperti yang orang-orang desa kenal.Pekerjaan sebagai kuli panggul pun merupakan penyamaranku sebagai seseorang yang diutus.Dan aku diutus guruku untuk mengajar di desa SuryaPati.Mengemban misi dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam di Desa suryapati.Seperti kamu tahu,Lintang.Mayoritas di desa ini adalah masyarakat yang masih beragama nenek moyang tetapi meskipun begitu masyarakat disini sangat baik kepadaku.Ini akan menjadi kenangan terindahku dalam mengemban misi dakwah ini.Sangat berat sekali meninggalkan kebersamaan yang belum lama kita bangun,Maukah kamu menungguku..Setidaknya sampai Guruku menyuruhku untuk menghentikan misi dakwah ini dan menikahimu.Jika kamu mau menungguku,tunggulah aku 5 tahun lagi..Percayalah padaku,Lintang.Aku akan mendatangimu sekalilagi..Sebelum itu kamu bisa melihatku setiap ba’da asar di keceriaan anak-anak desa yang mengaji itu atau kamu boleh memandangiku di senja sore yang setiap hari selalu menantikanmu.” Air mata bercucuran dan tangispun menggema.

Lintang tak bisa menahan sedihnya ditinggal pergi Tomi.Bukan Tomi,lalu siapakah sebenarnya Tomi itu ? Lintang kini setiap hari menjelang sore ba’da asar selalu mengajar anak-anak untuk mengaji dan sehabis itu memandangi senja sore berharap lelaki yang menyamar sebagai Tomi itu kembali lagi untuk menikahinya. Demikianlah Lintang,Dia selalu tersenyum sambil air mata bercucuran saat memandangi langit-langit senja sore.Akankah lelaki yang menyamar itu akan datang dan secara kstaria bersedia menikahi gadis tua itu.Biarlah waktu yang akan menjawab sebuah cinta yang penuh pengorbanan dan sendu ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s