Romantika Kopi Bajingan 9

oleh : Aamir Darwis

Malam minggu yang penuh dengan hingar bingar arus kendaraan yang melewati rumahnya Pak Dulah,tidak membuat Pak Kumis Cs menghentikan rembugan kali ini.Meskipun Rumah Pak Dulah berada di tepi jalan raya dan terdengar bising sampai di dalam ruangan rumah,tak membuat semangat mereka goyang ditelan bumi.

Usut punya usut bukan karena bisingnya arus kendaraan yang lewat melainkan adanya suguhan Roti Sagon.Makanan khas jawa yang semakin jarang ditemui karena pamornya yang kalah dengan Roti-roti masa kini.Begitupun dengan pemberian Nama khas Jawa,seperti Kliwon,Paimin,Paijo,Poniran,Tugiyem,Tusilah dan lain semacamnya juga mulai punah karena kalah dengan nama khas kearab-araban ataupun kebarat-baratan .Misalnya saja nama Al ghifari,Al-al lainnya dan juga Alex,Robert,atau semacamnya.Bukan masalah memang pemberian nama tersebut tetapi tingkat kegaulan atau kebagusan nama diperjelas dengan hal ini,padahal semestinya bisa seimbang.Nama khas Jawa juga semestinya tidak dikucilkan dan dpinggirkan.Ditakutkan nama khas Jawa malah akan punah dan menjadi kenangan.

Kini mereka duduk sambil bercengkrama satu sama lain.Ada Pak Kumis,Slendem,Amar,Pak Dulah dan Aman yang kini sudah menyelesaikan masa kuliahnya dan bergelar Sag (Sarjana Agama).Pemberian gelar dalam bidang akademisi itu bertujuan apa sih? Apa jangan-jangan malah dibuat hanya untuk pamer tingginya sekolah atau dibuat perbedaan antara yang bersekolah dengan yang tidak bersekolah.Apakah titel atau gelar menunjukan bahwa orang yang bertitel dan bergelar itu bisa membuat dirinya bermanfaat setidak-tidaknya ilmunya yang dipelajari bisa ditularkan ke masyarakat.Atau jangan-jangan titelnya hanya untuk pajangan nama rumah atau nama undangan pernikahan supaya terlihat anak terdidik.Malah jangan-jangan titelnya hanya untuk mencari pekerjaan. Tetapi Alhamdulillah Amar sepertinya tidak begitu.Dia bukan orang yang suka membawa-bawa atau mengucapkan gelar.Baginya dalam pembelajaran yang penting kepahaman dan manfaatnya sedangkan gelar hanya membuat ketimpangan dan sedikit membuat tren keujuban.

Pak Kumis membuka diskusi kali ini, “Terima kasih buat Pak Dulah yang bersedia menjadi tuan rumah diskusi kali ini.Diskusi kali ini bebas mengangkatkan topik berita apa saja,silakan teman-teman yang mau ikut mengkritik atau memberi saran.Kalau saya akan berbicara tentang kasus pencurian ampli yang berujung kematian.Seperti kita tahu,Tersangka X adalah korban dari kebrutalan dan kekalapan masyarakat.Masyarakat menjadi iblis yang berkostum manusia karena tidak bisa membedakan mana maling besar dan mana maling kecil.Memang tindakan mencuri,apapun besar kecilnya tidak bisa dibenarkan.Hanya saja apakah pantas maling ampli itu harus berujung maut? Ini sama juga dengan cerita maling sandal,maling ayam dan maling makanan.Mereka tewas mengenaskan padahal pencuriannya tidak sebanding dengan nyawanya.Ini kan masalah..” Kata Pak Kumis dengan argumennya

“Saya setuju dengan Pak Kumis.Tindakan main hakim sendiri sangat-sangat tidak bisa dibenarkan.Bahkan sampai terjadi pembunuhan padahal pencuriannya hanya kategori maling kecil.Seseorang mencuri juga banyak kemungkinannya,bisa jadi memang sangat butuh uang sehingga terpaksa dan lupa diri hingga mencuri,ini kan bisa jadi.Berbeda dengan Koruptor alias maling kelas kakap,mereka mencuri bukan karena kepepet tetapi karena ingin meng-kaya-kan dirinya.Endingnya jelas lain.Maling kecil hanya untuk makan dan keperluan sehari-hari sedangkan maling kakap sekelas koruptor itu untuk meng-kaya-kan dirinya sehingga bisa membeli barang-barang mewah.Sungguh sangat disayangkan tindakan main hakim sendiri terjadi lagi,Semoga ini yang terakhir dan tidak ada lagi maling kecil yang harus dihakimi masa.Padahal diserahkan ke kepolisian pun sebenarnya sudah cukup.Jangan lupa,orang yang menghakimi dan membunuh maling ini juga termasuk dosa karena membawa kebencian dan tidak menggunakan nalar dan nurani.” Balas Pak Dulah

Slendem malah membahas topik lain, “Bagaimana dengan acara-acara tivi pada saat jam primetime.Seperti kita tahu,bahwa waktu maghrib sampai isa adalah waktunya mengaji.Sebelum dikalahkan oleh acara-acara tivi,masyarakat kita masih giat dan senang mengaji.Namun pendangannya berubah semenjak adanya acara-acara tivi.Joget-jogetan gak jelas artinya itu-itu saja fokusnya bukan pada peserta tetapi lebih kepada kehebohan dan candaan basi para juri dan presenter.Menurutku ini sangat latah.Dan kini justru hal seperti itu yang menjadi tontonan favorit ibu-ibu di desa-desa.Daripada mengajari anaknya ngaji ,kini mereka khusuk menonton bareng kelatahan ini.Kalau yang dewasa dan ABG juga acaranya paling sinetron-sinetron yang isinya pacaran doang..Infasi acara India dan Turki sangat-sangat tidak wajar.Saya malah mengharapkan ada sinetron yang mengangkat budaya atau sejarah asli dari Indonesia dan yang fokus mendidik.Bayangkan saja tidak ada sedikitpun pembahasan tentang fungsi untuk sekolah ,malahan kini sekolahan identik dengan pacaran.Sekolah untuk mencari pacar.Sekolah untuk mencari pengakuan.Sekolah untuk mencari kebanggan.Sisanya yakni ilmu cukup dijadikan bumbu-bumbu penghias semata.” Kata Slendem yang kali ini agak serius

Amar mengejar,

“Ini memang ironi kita sebagai pemuda bangsa.Tontonan yang terkesan membodohi malah lebih banyak daripada tontonan yang mendidik.Justru malahan banyak yang bangga dengan tontonan pembodohan ini.Saya setuju dengan Slendem,Jam Primetime adalah waktu untuk mengaji.Tivi harus dimatikan.Magrib sampai isa,tivi harus dimatikan.Mengisi waktu yang sebentar itu untuk mengaji.”

Aman mengejar dan mengalihan topik pembicaraan,

“Masyarakat kita ini sangat menggilai sepakbola.Berita tentang suporter yang mati sebab tawuran antar suporter juga turut menjadi perhatian.Kini bukan jamannya menjadi rasis,culas dan menghina.Kini jamannya suporter itu harus lebih kreatif lagi dan lagi.Untuk apa mendebat bahkan sampai mencaci maki suporter lain.Jangan jadi provokator.Tidak ada gunanya kita mencaci suporter lain justru hanya menambah permusuhan dan dosa.Niatnya mencari hiburan malah mencari dosa dan musuh.Rugi besar jika menjadi suporter hanya mencari musuh.Ingat! di dalam lapangan kita memang musuh secara pertandingan tetapi diluar lapangan semuanya adalah teman.Justru harusnya ajang nonton sepakbola digunakan untuk silaturahim antar suporter.Syukur-syukur dapat jodoh.Kan ini lebih bagus.Heuheuheuheu.”

Kini mereka menikmati santapan dari keluarga Pak Dulah.Kopi bajingan juga pastinya selalu hadir diacara-acara itu.Kopi hitam semangatku,Ayo semua menjadi lebih baik kawan-kawanku.. Romantika kopi bajingan,Mari bersama-sama menebar kebaikan.

Iklan

5 thoughts on “Romantika Kopi Bajingan 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s