Sampingan

Kebijakan Full Day School Relevankah ?

oleh : Aamir Darwis

Sebelum adanya Sekolahan,Masyarakat Indonesia sudah terlebih dahulu mengenal disiplin ilmu yaitu Ngaji di Pesantren.Sekolahan menjadi jembatan awal bahwa pendidikan di Indonesia mulai dititik beratkan pada kepentingan yang ujung-ujungnya adalah masalah pekerjaan.Sekolahan yang seharusnya memberi ruang para pelajar untuk mengekspresikan jangkauan ilmunya dan pendapatnya, kini terhalang oleh yang namanya simbolis gelar.Artinya orang yang mempunyai gelar boleh berpendapat dan diakui ,sedangkan yang belum atau mencari gelar sekalipun ngomong atau berpendapat apapun tetap tidak diperhatikan.

Dari sekian mata pelajaran yang diajarkan disekolahan,seperti IPA,IPS,PKn,Fisika,Kimia,Matematika,Bahasa Indonesia dan lain sebagainya,para pelajar diharuskan mempelajari semuanya,yang padahal setiap minat pasti berbeda.Menyuruh mempelajari semuanya sama saja menyuruh makan padahal sedang tidak mau makan,menyuruh ke pasar padahal tidak mau ke pasar.Pendidikan menjadi tabu,Pendidikan menjadi ajang baru yaitu mencari pengakuan.Artinya jika ingin diakui oleh masyarakat maka bersekolahlah dan dapatkan gelar meskipun tidak mengerti benar ilmunya yang penting bergelar saja.Masyarakat akan memuliakanmu.

Titik berat suatu bidang keilmuan adalah saat ilmu itu relevan dengan apa yang dialami dan dikerjakan setiap pelajar di kehidupannya.Artinya bidang akhlak dan bidang agama adalah ilmu yang paling tinggi karena akan langsung berdampak di kehidupan sehari-hari.Dan ini yang semakin luntur dan hilang dari sekolahan.Sekolahan memang mencetak orang-orang pintar tetapi untuk yang sekaligus berakhlak,sepertinya ini masih belum.Ironisnya hanya pendidikan sekolah yang diakui secara negara,artinya aparatur negara diambil dari orang-orang yang bersekolah.Dan lihatlah betapa koruptor-koruptor itu adalah orang-orang cerdas dan berprestasi tetapi gagal secara akhlak.Hendaknya sekolahan itu berbenah diri supaya tidak lagi membanggakan gengsi dan gelar melainkan lebih fokus kepada ilmu yang relevan dengan kegiatan sehari-hari.

Pesantren meskipun tidak diakui secara negara artinya memang hanya dianggap pendidikan agama,yang padahal pesantren telah menyumbangkan para pelajar untuk menjadi insan yang berakhlak.Titik berat pesantren ada pada menciptakan manusia yang berakhlak.Dan lihatlah di realita,bahwa lulusan pesantren meskipun ada yang tidak pintar tetapi menyumbangkan jiwa-jiwa manusia yang berakhlak.Sangat berbanding terbalik dengan sekolahan.

Lagi-lagi sekolahan memang harus berbenah.Apalagi dengan wacana Full Day School ini menjadi masalah karena bisa mematikan pendidikan pesantren padahal pendidikan pesantren sudah ngalah melaksanakannya di sore hari atau malam hari.Ini yang paling ditakutkan.Dari paparan diatas,nyata benar bahwa bukan masalah jamnya artinya memang letak masalah pendidikan sekolah bukan pada durasi jam tetapi lebih kepada sistem pengajarannya yang terkesan serakah.Padahal jika minat bisa diarahkan akan lebih matang.Padahal jika lebih dititik beratkan pada bakat pasti akan lebih menguatkan.Namun realitanya,para pelajar harus memakan apa yang tidak ingin dia makan,harus ke pasar padahal sebenarnya ingin ke masjid sehingga sebab bukan karena minat dan bakatnya maka disiplin ilmu itu akan menjadi kenangan saja tanpa bisa dipraktekan dikehidupan sehari-hari.

Full day School juga menambah beban bagi masyarakat miskin karena dengan tambahnya durasi belajar maka uang saku pun menjadi tambah.Padahal ini tidak diimbangi dengan pekerjaannnya yang pas-pasan.Pemerintah semestinya juga melihat aspek ini,bukan melihat pada titik berat penilaian guru.Guru itu kan pengayom.Jika guru hanya berorientasi pada gaji maka bisa dipastikan bahwa mutu guru juga perlu dikaji ulang.Tetapi bukan berarti menambah jam durasi belajar,yang dibutuhkan adalah kemampuan guru untuk bisa mengambil hati dan tahu apa minat,bakat,kemampuan dari murid sehingga guru pun tidak lagi monoton dengan pelajaran yang tekstual,ia bisa mengespolitasi kemampuan dan daya pikir murid tanpa harus terfokus pada teks yang ada di buku panduan.

Demikian juga para orangtua,jangan memaksakan kehendaknya pada anak untuk belajar pada bidang tertentu.Bukan pada keinginan atau kehendak orangtua,anak akan maju dan berbakat jika pendidikannya atas dasar kemauan,minat dan bakatnya.Problem di masyarakat adalah orangtua memaksakan sekolah anak sesuai keinginan orangtua.Memaksakan anak menjadi dokter padahal anak bercita-cita jadi guru.Memaksakan anak menjadi karyawan pabrik padahal cita-cita anak pengin jadi tentara.Biarlah anak berkembang sesuai keinginan dan minatnya asalkan tidak berbenturan dengan norma agama,maka orangtua juga semestinya mendukung.barulah jika minat itu bertentangan dengan norma agama,orangtua punya hak untuk melarang sang anak.

Iklan

6 thoughts on “Kebijakan Full Day School Relevankah ?

  1. Foto Jalan-Jalan berkata:

    Fenomena seperti ini sangat menyiksa orang tua. Apalagi yang (maaf) minim ekonomi. Dampak tambahan jam belajar ini menambah biaya diluar dugaan dan tidak seimbang dengan pendapatan. Hasilnya malah keluhan yang ada. Fokus pendidikan telah krodit di masyarakat kita yang notabene bermacam predikat. Yang mampu terus berjalan, yang patut diperhatikan tertinggal jauh di bawah. Bagaimana nasib anak kita? Dimana tempat ditinggali disitulah pemimpin mengayomi. Gampang dan nyata kok kan KTP saja sudah elektrik dan dipunyai masing-masing warga dengan kelurgnya dan tercatat secara hukum hidup, bekerja, sekolah dan berorganisasi di wilayahnya. Kenapa repot?

    Disukai oleh 1 orang

  2. Bgimn diakui,lha wong sertifikat pesantren tdk bisa dipakai utk hal” keperluan lain..Beda dg sertifikat sekolah,gak ada sejarah org yg hny lulusan pesantren bisa jd pejabat..Tapi karena tujuan pesantren mmng fokus ke pendidikan manusia supaya berakhlak shg sertifikat tdk diperlukan lagi …

    Suka

  3. Kalau aku sih, gak evektif kayak gitu, benar untuk masalah tambah uang saku, tapi dari siswanya sendiri pasgi.merasa bosan harus belajar dipaksa kayal giyu, keletihan juga berfampak buruk dalam proses pembelajaran

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s